“We are so busy watching out for what is just ahead of us that we do not take time to enjoy where we are.” Bill Watterson
Suasana pagi di Tokyo saat itu berjalan pelan. Udara masih dingin dan jalanan belum sepenuhnya terisi suara.
Saya sengaja keluar hotel lebih awal karena ingin menikmati udara pagi sebelum menuju station Tokyo Big sight di Odaiba.
Di sisi trotoar, sebuah vending machine berwarna putih tampak menonjol di tengah warna dan silhoutte pagi yang masih pucat. Permukaannya bersih dan sedikit memantulkan bayangan saya yang berdiri diam di depannya.
Barisan kaleng tersusun rapi dan terlihat unik karena terbagi menjadi dua bagian, merah untuk minuman panas dan biru untuk minuman dingin.
Coffee hitam, tea hijau, tea oolong hingga hot chocolate dengan label dari Asahi sampai Wonda. Tidak ada yang mencoba menarik perhatian secara berlebihan, semuanya hanya ada, menunggu.
Saya berhenti sejenak, membiarkan mata mengikuti setiap detail kecil yang biasanya terlewat, tanpa rasa terburu-buru.
Dalam perjalanan seperti ini, saya sering merasa harus segera menentukan pilihan. Namun pagi itu terasa berbeda. Tidak ada yang mendesak dan tak ada yang harus diputuskan saat itu juga.
“A morning with no urgency can show you how much of your rush was self-made.”
Part 1.

