“True stability grows when balance holds every side in harmony and choices are made with quiet certainty.”
Bapak tua itu masih bersemangat bercerita. “Lunas ini ada bagian depan dan bagian belakang.” Saya menunduk dan jari menyentuh permukaan kayu. “Apa bedanya, Pak?” Rasa penasaran tiba-tiba terasa begitu dalam.
“Tulang rusuk bagian depan melambangkan laki-laki dan nanti setelah kayunya dipotong akan dilarung ke laut. Bagian belakang melambangkan perempuan, tapi potongan kayunya akan disimpan di rumah.” jawabnya.
Saya menatap kayu itu lekat dan membayangkan seolah di dalam setiap potongan tersimpan bahasa yang hanya mereka yang mengerti.
Bapak yang satunya menimpali sambil tersenyum, “Bagian yang mau dipotong ditandai dulu dengan pahat, lalu dibacakan doa. Nanti waktu dipotong tidak boleh berhenti di tengah jalan.”
“Dipotongnya pakai apa, Pak?” saya bertanya dengan mata tetap menatap kayu yang terbentang di depan kami. “Pakai gergaji mesin,” jawab bapak itu sambil tersenyum dan menunjuk ke arah balok kayu.
Saya merenung tentang lunas yang mereka beri symbol laki-laki dan perempuan, lalu dipotong dalam hanya satu gerakan pada akhirnya menyadarkan saya bahwa awal dari perjalanan butuh keseimbangan dan ketegasan.
Keseimbangan karena tidak ada kapal yang bisa tegak tanpa dua sisi yang saling melengkapi. Ketegasan karena ada saatnya keputusan harus diambil dalam satu tarikan yang tanpa ragu agar tetap utuh dan kuat.
“Decision is a sharp knife that cuts clean and straight. Indecision, a dull one that hacks and tears and leaves ragged edges behind.” Gordon Graham
Part 46.

