“He is most deceived who trusts in the calm.” Publilius Syrus
Kapal fery terus melaju dengan tenang dan laut terlihat rata seperti kain yang direntangkan rapi. Tidak ada ombak besar yang menggulung dan tidak ada gerakan mendadak.
Nigel akhirnya bicara lagi namun suaranya tetap pelan. “You know what’s funny. Most mistakes at sea don’t happen during storms.” Sophie langsung menoleh. “Really, broer?”
Nigel mengangguk pelan. “Yeah. That’s when it often happens. Calm water, clear sky and when everything feels normal. People trust routine too much and they stop really looking.”
Chloe mengernyit dan rambut halus di pelipisnya terangkat sedikit tertiup angin. “So calm doesn’t mean safe, broer ?”
Nigel kembali mengangguk. “Exactly. That’s why sailors were trained to keep reading small signals, even on quiet days. The color of the water, the way the ship feels and little changes most people ignore.”
Sophie memandang laut lagi dan kali ini pandangannya jatuh lebih lama. “So you still have to pay attention, even when nothing’s happening.” Nigel tersenyum tipis. “Especially then.”
Machine kapal berdengung pelan di bawah kaki kami, laut tetap tenang dan tidak ada yang perlu disimpulkan. Percakapan itu sudah cukup berdiri sendiri, seperti tanda kecil yang hanya terasa kalau kita mau benar-benar melihat.
“The sea teaches patience but it also teaches vigilance.”
Part 10.

