“The most precious gift we can offer anyone is our attention.” Thich Nhat Hanh
Saya menarik napas pelan dan membiarkan kata-kata dari pak sopir tadi tinggal sebentar di kepala. Di luar jendela, lampu kota bergerak seperti garis panjang. Bangkok terasa ramai, tetapi di dalam mobil ada ruang yang lebih sunyi.
Entah mengapa, pikiran saya tiba-tiba kembali ke Chloe dan Sophie. Bukan pada kamar mereka, bukan juga pada rumah. Hanya pada ingatan tentang cara mereka menggambar.
Pak sopir melirik sebentar lewat kaca spion. “You thinking about family?” katanya dalam bahasa Inggris dengan logat Thai yang lembut.
“Yes. My kids love drawing.” Sambil tersenyum dan ia mengangguk. “Drawing is good. Kids put their heart on paper.” Kalimat itu sederhana, tetapi menempel.
Saya teringat bagaimana mereka sering menggambar Candy Candy. Bukan hanya karena lucu tetapi karena mereka tahu itu tokoh cartoon yang saya sukai sejak kecil. Seperti cara halus mereka berkata, “I remember you.”
“Sometimes kids say I love you without saying it. Saya tertawa kecil, pak sopir ikut tersenyum. “Yes. Same with my daughter. When my wife packs my lunch, she always adds extra rice. She never says anything, but I know.”
Di taxi yang melaju pelan itu, saya tersadar bahwa kadang hal paling berarti bukan apa yang kita miliki, melainkan moment-moment kecil yang membuat kita merasa diperhatikan.
“Small acts, when done with love, are never small.” Mother Teresa
Part 40.

