“ Contrast is the language the world uses to help us notice.”
Suara pasar malam masih bergulung di belakang, saat saya dan Mbak Patsy kembali melangkah melewati asap tipis dari wajan aneka ukuran dan percikan cahaya dari lampu kios.
Tidak jauh dari sana, di tengah deretan pedagang buah dengan anggur yang mengilap dan penjual makanan yang sibuk membalik aneka sate serangga serta mengaduk mie, ada satu sosok yang tampak berbeda.
Seorang anak muda penjual accesories ponsel berdiri tenang, tanpa lampu sorot, hanya ditemani langit biru yang sudah gelap. Meja kayu kecil di depannya menjadi panggung sederhana tempat ia berdiri dengan percaya diri.
Deretan cable digulung rapi seperti pita warna yang berjajar manis sementara gantungan accesories kecil bergoyang pelan setiap kali angin menyentuhnya. Di sampingnya, barisan casing ponsel dengan berbagai bentuk tergantung tenang.
Yang menarik, kios ponsel itu justru menjadi titik paling ramai di antara semua hiruk pikuk. Orang-orang yang semula berjalan cepat tiba-tiba melambat lalu ikut merapat.
Mungkin karena di tengah deretan buah dan aroma makanan panas, ada satu kios yang menjual sesuatu yang sama sekali berbeda. Suasana contrast itu ternyata membuat semuanya terasa lucu dan indah sekaligus.
Di satu sisi ada dunia kuliner dengan asap dan bumbu lalu tepat di sebelahnya ada kilau dari aneka accessories ponsel, seperti cahaya kecil dari dunia lain yang tidak sengaja terselip di tengah pasar.
“What stands apart invites the eye to linger a little longer.”
Part 29.

