“We are far more united and have far more in common with each other than things that divide us.” Jo Cox
Tawa kami bertiga perlahan mereda tapi hangatnya masih tertinggal seperti uap tea yang belum sepenuhnya hilang di udara.
Saya memandangi wajah mereka bergantian. Kami datang dari Jepang, Filipina, dan Indonesia, tiga latar yang berbeda tapi barusan tertawa pada hal yang sama tanpa perlu banyak penjelasan.
Rasanya seperti ada benang halus yang menghubungkan kami, bukan karena bahasa yang seragam melainkan karena gerak kecil, cara menunduk, cara tersenyum dan cara memberi ruang saat orang lain berbicara.
Saya jadi sadar bahwa mungkin kami tumbuh di bagian dunia yang sejak lama terbiasa hidup berdampingan dengan perbedaan.
Di Asia, banyak budaya bertemu, saling memengaruhi dan saling meninggalkan jejak. Kita belajar membaca isyarat sebelum kata-kata selesai diucapkan.
Barangkali itu sebabnya perbincangan singkat tadi terasa cepat akrab. Bukan karena semuanya sama tapi karena ada nilai yang arahnya sejalan.
Ada rasa hormat yang diam-diam dimengerti dan ada kesopanan yang tidak perlu dijelaskan. Bukan soal siapa pusat pertemuan siapa, melainkan tentang bagaimana jalur-jalur itu pernah bersilang.
“Familiarity does not always come from similarity but from shared values.”
Part 5.

