0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

Taman wisata Burung Dara Aceh, mungkin banyak wisatawan yang belum mengetahuinya. Taman ini terletak di Gampong Glee Karong, Indrapuri, Aceh, Sumatra Utara. Pada awalnya Aceh dikenal dengan sebutan Aceh Darussalam pada tahun 1511 sampai 1959, Daerah Istimewa Aceh pada tahun 1951 sampai 2001, Nanggroe Aceh Darussalam pada tahun 2001 sampai 2009 dan 2009 sampai sekarang dikenal dengan sebutan Aceh. Namun sejak zaman dahulu Kota Aceh sudah dijuluki sebagai Kota Serambi Mekkah.

 

Penduduk Aceh menetapkan flora fauna yang sudah hidup ribuan tahun lama di sana sebagai identitas khas dari Provinsi Aceh. Flora khas Aceh adalah Cempaka Kuning, di sana lebih dikenal dengan sebutan Bunga Jeumpa. Tanaman ini beraroma wangi yang khas dan warna bunganya ada yang berwarna kuning, orange atau putih.

 

Sedangkan Fauna khas Aceh adalah Burung Cempala Kuneng atau Kucica Ekor Kuning (Trichixos Pyrropygus). Burung ini adalah maskot Provinsi Aceh. Burung Cempala Kuneng berukuran sedang memiliki panjang 21 cm. Dada, perut, dan ekor berwarna kuning kemerahan. Kepala, punggung dan ujung bulu ekor warna hitam. Alis berwarna putih untuk Burung Cempala Kuneng jantan.

 

Kali ini kita akan membahas burung, namun burung yang akan dibahas bukan Burung Cempala Kuneng melainkan Burung Dara. Burung Dara terbilang hewan yang mandiri karena dapat membangun sangkarnya dengan cara mengumpulkan ranting-ranting pohon dan sisa bahan alam lainnya pada birai, tanah atau juga di pepohonan. Burung Dara ini memakan biji-bijian dan buah-buahan.

 

Taman wisata Burung Dara di Aceh masih terasa asing oleh wisatawan lokal yang berada di luar kota Aceh. Tempat ini memang belum lama berdiri. Taman ini terletak di Gampong Glee Karong, Indrapuri, Aceh, Sumatra Utara.

 

Pemilik Taman Wisata Burung Dara ini bernama Mursalin Nagaya, warga asli Kecamatan Indrapuri, Aceh, Sumatra Utara. Pria berumur 42 tahun ini mengaku terinspirasi saat Ia menonton tayangan di Youtube yang memperlihatkan sebuah tempat wisata di luar negeri memiliki ratusan bahkan ribuan ekor burung merpati.

 

“Di luar negeri ratusan bahkan ribuan burung dara atau merpati bisa menjadi hal yang menarik untuk dijadikan tempat wisata, orang bisa berfoto, bersantai dan sebagainya”, ujar Mursalin Nagaya sang pemilik Taman Burung Dara.

 

Banyak orang yang menganggap burung dara atau merpati adalah peliharaan orang di pedesaan, padahal burung-burung tersebut bisa dijadikan hal menarik untuk memajukan pariwisata di Indonesia.

Sebidang lapangan tenis milik keluarganya diubah Mursalin menjadi tempat wisata burung dara. Tempat ini dibuat dengan gaya santai yang menghadap hutan sebagai panorama alamnya. Anda bisa menikmati makanan dan minuman ditemani kicauan burung, burung-burung dara yang hilir mudik kesana kemari dan pemandangan alam yang indah.

 

Belajar dari Youtube, Mursalin mengkombinasikan keindahan alam, burung, dan kuliner. Menurutnya, ketiga hal tersebut menjadi daya tarik yang kuat untuk menjalani hobi sekaligus membuka peluang bisnis yang besar.

 

Ratusan burung Ia dapat dari para pedagang di sekitar Aceh. Mursalin hanya butuh empat hari untuk menjinakkan semua burung-burungnya agar lebih dekat dengan manusia.

 

Meskipun baru sebulan dibuka dan belum beroprasi sepenuhnya, masyarakat sudah banyak yang antusias dengan taman wisata burung dara ini. Masyarakat yang tidak sengaja lewat banyak yang sengaja mampir untuk melihat keindahan yang disajikan taman wisata burung dara ini.

 

Saat ini Mursalin juga sedang mempersiapkan sejumlah fasilitas lainnya, seperti camping, kolam renang, kolam untuk memancing, outbond dan masih banyak fasilitas lainnya.

Mursalin menjadikan tempat wisata burung dara ini sebagai tempat yang ramah lingkungan. Semua elemen bangunan yang Ia dapat adalah barang bekas milik warga sekitar yang sudah tidak digunakan lagi, seperti besi atau kayu-kayu.

 

Menurut kebanyakan pengunjung tempat wisata burung dara ini adalah tempat yang nyaman, udara yang sejuk, dan pemandangan yang masih alami. Tempat wisata burung dara ini menjadikan wisata ramah lingkungan namun terjangkau.

 

Anda hanya mengeluarkan uang Rp. 2.000 untuk memberi makan burung dan Rp. 3.000 untuk foto bersama burung yang nantinya file foto Anda akan dikirim langsung ke ponsel Anda. Taman wisata burung dara ini buka setiap hari dari jam 9 pagi sampai jam 12 malam.

 

Taman wisata Burung Dara Aceh ini menyajikan wisata alternatif yang positif dan ramah lingkungan. Tempat ini cukup menarik untuk dikunjungi bila Anda sedang berlibur ke Aceh, Sumatra Utara. Namun janganlah lupa untuk menjaga dan melindungi alamnya dengan tidak mengotori maupun merusak keindahan taman wisata burung dara Aceh ini.

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!