“What endures above begins with what is steady beneath.”
Saya, Chloe dan Chris masih berdiri di bawah rangka kapal phinisi itu ketika lelaki tua tadi melanjutkan ceritanya tentang seluk beluk pembuatan kapal. Kali ini seorang bapak lain ikut bergabung dengan palu kecil masih di tangannya.
Dengan nada pelan ia ikut bercerita, “Setelah hari baik ditentukan, barulah kayu boleh ditebang, dijemur, lalu dipotong. Tidak boleh terburu-buru, sebab bila satu tahap saja dilangkahi, kapal nanti tidak akan kuat.”
Bapak tua itu mengangguk, lalu menunjuk ke balok kayu besar dan panjang yang terbentang di tanah. “Yang paling penting itu lunas, Nak. Lunas ini baru bisa dipasang setelah melewati prosesi ritual khusus terlebih dahulu.”
Saya mengernyitkan kening. “Lunas itu apa yah?” Chris segera menimpali, “I think what he means is the keel. It’s like the backbone of the ship, it’s the first big piece at the bottom and everything else is built on top of it.”
“Maksudnya balok panjang yang diletakkan di bagian paling bawah itu ya, Pak? Jadi fungsinya sebagai pondasi berdirinya konstruksi kapal,” saya kembali bertanya sambil perlahan mengangguk, mulai mengerti maksudnya.
“Iya, betul,” jawab bapak tua itu sambil menunjuk ke dasar lambung phinisi yang sedang mereka kerjakan. Balok kayu panjang itu terbentang kokoh untuk menjadi penopang pertama yang menuntun kayu-kayu lain menemukan tempatnya.
Saya terdiam sejenak sambil menyimak setiap kata. Balok kayu itu memang tersembunyi di bawah, namun justru di sanalah kekuatan kapal disimpan. Ia menjadi garis awal yang menentukan arah kapal ketika kelak menembus lautan.
“A strong frame means nothing without a steady base.”
Part 45.

