“The sea is both classroom and sanctuary, teaching lessons beyond the shore.”
Kami masih duduk di bangku kayu di beranda dengan angin laut berembus pelan membawa sisa aroma garam. Dari tempat itu saya menoleh sekeliling, melihat wajah-wajah di sekitar kami.
Semuanya datang ke Tanjung Bira demi menyelam. Ada yang baru tiba dengan kulit masih pink merona, tampak asing terhadap teriknya matahari, ada juga yang sudah kecokelatan, tanda berbulan-bulan terbiasa dengan laut dan segala ritmenya.
“Banyak yang sudah berbulan-bulan tinggal di sini,” perempuan itu berkata sambil menggeser map di pangkuannya. “Ada yang menjadi volunteer membersihkan pantai, ada pula yang ikut membantu pusat konservasi karang.”
Saya mengangguk pelan, membiarkan matanya menuntun pandangan saya. “Ada juga yang sedang mengambil dive master certificatenya dan ada yang sedang menjalani research diver training program.”
Motivasi mereka sungguh beragam. Ada yang datang sekadar untuk fun dive, menikmati sensasi kedalaman dengan rasa ingin tahu yang membuncah. Ada yang datang demi ilmu, meneliti gerak ikan, karang, hingga perubahan suhu air.
Ada pula yang datang untuk memberi kembali pada laut, bekerja sebagai relawan menjaga pantai dan karang.Namun meski alasan mereka berbeda, mata mereka menyimpan kilatan yang sama yaitu kekaguman.
Seakan laut Tanjung Bira bukan hanya tempat menyelam di mana setiap orang datang mencari sesuatu. Kadang pengetahuan, kadang kedamaian dan kadang jawaban yang tidak bisa ditemukan di darat.
“Some seek knowledge, some seek peace, others seek wonder. Yet all find their reflection in the same sea.”
Part 31.

