Julia Grieve muda berprofesi sebagai model sebelum akhirnya ia memutuskan untuk beralih karir saat memulai bisnis pada tahun 1995. Ia membuka bisnis ritel pakaian yang dilabelinya dengan nama Preloved. Seperti tergambar dari namanya, pakaian yang diproduksinya menggunakan bahan dasar dari daur ulang pakaian lama.
Meski bisnisnya bergerak dalam produksi pakaian, lucunya Julia sendiri tidak tahu bagaimana caranya menjahit. Ia menyukai pakaian vintage yang kemudian selalu dibawanya ke penjahit untuk memendekkan sebuah gaun atau hanya mengganti kancingnya saja. Semuanya terjadi tanpa ia perkirakan sebelumnya.
Saat ia tengah melakukan pekerjaannya sebagai model di Jepang, orang-orang terus bertanya di mana dia mendapatkan sesuatu dan Julia akan mengatakan bahwa dia sendiri yang membuatnya seperti itu. Demikianlah sejarah singkat label pakaian Preloved miliknya terlahir. Label tersebut akan menjadi perpaduan yang menarik antara gaya vintage dan kontemporer dengan membentuk dan menata kembali pakaian-pakaian kuno menjadi potongan-potongan modern.
Bisnis pakaian Julia sebelumnya berbentuk toko, tapi semakin berkembangnya teknologi membuat ia lebih fokus pada penjualan online. Setelah hampir 18 tahun di ruang ritel, getpreloved.com akhirnya diluncurkan kembali sebagai butik online Julia. Hasil produksi label tersebut dijual di seluruh dunia, di toko-toko seperti Anthropologie, The Hudson’s Bay Company, Beams Japan, Roots, dan lebih dari 400 butik independen.
Label Preloved memiliki koleksi utama berupa pakaian wanita kontemporer, tetapi mereka juga membuat pakaian pria dan anak-anak, serta dekorasi rumah. Dalam satu musim ada sekitar 100.000 sweater vintage yang digunakan untuk membuat koleksi tersebut, selebihnya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Diakui Julia bahwa selama menjalankan bisnisnya, dampak yang ditimbulkan pada lingkungan awalnya bukan menjadi perhatiannya. Ia hanya ingin membuat pakaian yang unik dan berbeda. Ide menarik yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain hingga saat ini masih sangat menginspirasinya, dan mendaur ulang pakaian vintage sebagai bahan utama produksi membuat semuanya menjadi mungkin.
Tujuan awal Julia membangun bisnisnya adalah ingin membuat orang terlihat hebat dengan pakaiannya, menyelamatkan bumi adalah bonus yang tak pernah disangka dan terjadi begitu saja. Maka dari itu, ia sering menyebut dirinya sebagai aktivis lingkungan yang tidak disengaja.
Produknya telah dikenal dan diminati banyak selebritis dan tastemaker. Situs web labelnya mencantumkan nama Julia Roberts, Kristen Dunst, Angela Lindvall, Hillary Duff, Anne Hathaway, Christine Horne, Kate Hudson, dan Daria Werbowy sebagai penggemar koleksi mereka.
Julia telah lebih dahulu berada di tren mode “hijau” selama kurang lebih satu dekade meski ia bersikeras bahwa idenya tidak berangkat ke arah itu mulanya. Ia selalu menekankan bahwa dirinya adalah aktivis lingkungan dadakan. Ia memang selalu merasa bangga akan labelnya yang menggunakan kembali pakaian lama, tetapi tetap berada dalam topik eco-fashion yang terus berkembang adalah upaya yang masih terus berjalan.
Pada suatu momen ketika ia menjadi pembicara beberapa tahun lalu, Julia dikejutkan dan diberi pencerahan saat salah seorang hadirin bertanya tentang konsumsi air tahunan perusahaan Preloved. Tidak pernah terpikirkan oleh Julia sebelumnya bahwa mencuci sweater lama dapat menjadi hal yang buruk. Sejak itu ia selalu berhati-hati dan lebih memperhatikan segala kegiatan yang dilakukan perusahaannya, termasuk cuci kering yang ramah lingkungan.
Julia selalu berusaha menjaga produknya tetap lokal. Ia menjadi jagoan gerakan produk lokal sebelum hal itu menjadi sesuatu yang besar. Tak dapat dipungkiri bahwa topik operasi pemindahan di luar negeri telah muncul agar tetap bersaing secara kompetitif, namun hal itu tidak menggoyahkan tekad Julia.
Julia dan timnya selalu berusaha untuk membuat produk lokal dan menjaga harganya tetap kompetitif. Itulah yang selalu mereka perjuangkan setiap hari. Ia meyakini bahwa dengan cara itu label miliknya akan menjadi lebih baik dan lebih kuat.
Tidak banyak orang yang dapat mempertahankan prinsip bisnis agar tetap lokal. Untuk itu, ketekunan Julia patut diberi acungan jempol. Walaupun tak terpikirkan niat awal menjadikan bisnisnya berada dalam ranah eco-fashion, tanpa disadari ia telah berkontribusi dalam menyelamatkan planet tempatnya tinggal. Setelah menyadari itu, ia pun tidak segan untuk lebih mendalaminya lagi.
Kita tidak bisa hanya menutup mata akan dampak apa yang mungkin merugikan lingkungan akibat kegiatan yang kita lakukan. Siapa sangka bahwa menggunakan dan merombak kembali pakaian lama juga dapat menyelamatkan bumi kita tercinta. Ketidaksengajaan Julia Grieve terjun dalam eco-fashion nyatanya memberi kontribusi dalam melestarikan bumi.


