0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Like the tide, life moves freely when we stop holding on to what’s meant to drift away.”

 

Saya kembali menyesap tea tarik di hadapan yang hangatnya sudah nyaris pudar, menyisakan jejak samar di bibir cangkir. Di luar, matahari mulai merayap lebih tinggi, sinarnya menyusup lembut di antara dedaunan, menari pelan di permukaan meja.

 

Di dalam kopitiam ini, tawa mereka bertiga masih bersahutan dan obrolan masih terus mengalir, ringan tanpa beban. Namun, pikiran saya malah melayang jauh, menyusuri jejak-jejak kenangan yang pernah mengganjal di hati.

 

Betapa mudahnya kita  sering terjebak dalam labyrinth perasaan sendiri, mengulang-ulang kejadian yang telah berlalu, seolah dengan menggenggamnya lebih erat, luka itu akan berubah menjadi sesuatu yang lebih ringan. Padahal, semakin erat kita menggenggam, semakin dalam ia tertanam.

 

Melepaskan memang tak akan pernah mudah karena kita bukan sekadar membiarkan sesuatu pergi, tapi juga berdamai dengan ruang kosong yang ditinggalkannya.

 

Tapi bukankah ruang kosong itu yang memberi kita kesempatan untuk mengisinya dengan sesuatu yang baru? Seperti tanah yang dibiarkan bernapas sebelum ditanami kembali dan seperti gelas yang harus dikosongkan sebelum diisi dengan tea yang baru diseduh.

 

Saya meletakkan gelas kembali, membiarkan kehangatan terakhirnya menguap bersama pikiran yang tak perlu lagi saya genggam. Ada hal-hal yang tak seharusnya dibawa terlalu jauh dan tidak dibebankan ke dalam hari-hari yang masih menanti.

 

Hari ini bukanlah tentang mempertahankan apa yang telah usang. Hari ini adalah tentang melangkah dengan hati yang lebih ringan, disertai dengan genggaman yang tak lagi menahan apa yang memang sepatutnya kita lepaskan.

 

“The heaviest burdens are the ones we choose to hold on to.”

Part 8.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!