0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“I believe you should focus your life on observing the little things because one day you look back and realize they were the big things.”

Jay shetty

 

Laos, Thailand, Cambodia dan Vietnam adalah negara dengan sejarah kuliner yang hampir sama,  mulai dari pemilihan rempah atau pun cara pengolahan.

Setiap kali saya melakukan business trip ke salah satu negara tersebut ada satu jenis salad yang ‘sama tapi berbeda’  yaitu  green papaya salad.

 

Setiap negara mempunyai cara penyebutan yang berbeda, di Cambodia  di sebut Bok Lahong, Som Tum di Thailand, Tum Som di Laos dan Gỏi Đủ Đủ di Vietnam.  Kesemuanya menggunakan bahan yang hampir sama yaitu cabai, potongan bawang putih segar, sejumput udang kering dan  beberapa tetes kecap ikan.

 

Tak lupa taburan gula aren untuk melembutkan saus yang telah dicampur kacang tanah, irisan segar jeruk nipis, tomat ceri  yang merona, renyahnya kacang panjang hijau, dan tentunya bahan utama yaitu  pepaya yang belum matang sempurna.

 

Berdasarkan hasil pengamatan sebagai pencinta kuliner dipadu dengan jiwa detektif yang tinggi, salad dari Laos dan Thailand lebih pedas dengan penggunaan cabai rawit antara 4 hingga 8 pieces.

 

Sebaliknya, Vietnam lebih suka menggunakan cabai besar dan di Cambodia perpaduan antara cabai besar dan kecil dalam jumlah sedikit sehingga rasanya lebih light dan tidak membuat bibir saya monyong kepedasan.  Perbedaan lain, technic kapan pencampuran sayuran dan rempah saat  menguleknya menghasilkan kuah dengan kekentalan yang berbeda.

 

Papaya salad di Thailand , Laos dan Cambodia  cenderung lebih basah dibandingkan versi Vietnam karena penduduk local lebih suka menikmatinya dengan  ketan. Fungsi ketan juga untuk menyeka seluruh permukaan piring yang masih dipenuhi kuah hingga habis tak bersisa.

 

Siang itu, saat perjalanan pulang ke hotel untuk sholat terlihat dari kejauhan penjual dengan gerobak mirip  dengan penjual ketoprak.

 

“Bang, abang ,abang ketopraaak!” bertepuk tangan dengan kuat sembari berlari-lari kecil menghampiri penjual tersebut.

“Ini makanan apa  ?”  Bertanya tetap dengan bahasa Indonesia karena hampir semua tidak bisa berbahasa Inggris. Ia menunjuk ke tulisan di cartnya seakan bisa mengerti maksud pembicaraan saya.

 

Hati menari gembira karena itu adalah jenis papaya salad seperti yang saya nikmati kemarin.  Memberikan isyarat kalau ingin take away dengan memberikan box makanan sendiri saat ia mengeluarkan kantung plastik. “Plastik tidak bagus untuk kesehatan bumi, mas bro.”

 

Menyunggingkan senyum lebar seakan mengerti dan mulai meramu semua bahan yang ada. Saat ia mau mengambil cabe, saya dengan sigap menggelangkan kepala dan jari telunjuk diayunkan ke kiri dan ke kanan.

 

“ Nggak bang, saya tidak kuat.” Mulai mengoceh tanpa peduli ia mengerti atau tidak dan ia ikut mengoceh dengan  bahasa Khmernya. Kami saling membalas percakapan dengan bahasa masing-masing tanpa peduli arah pembicaraan dan akhirnya di tutup dengan gelak tawa kami masing-masing.

 

Ia menyerahkan kotak makanan saat saya  memberikan selembar uang satu dollar dan ternyata masih dikembalikan beberapa lembar uang Riel.  “Wah, murah sekali untuk sayur se-fresh  ini.”

 

Saya kembali melanjutkan perjalanan kembali ke hotel. Sesampai di kamar, mbak Patsy ternyata belum tiba dari venue sehingga saya  duduk santai di teras menunggu kedatangannya.   Tak lupa sebelumnya cuci tangan , mengganti baju dengan daster  dan mulai membuka kotak makanan.

 

Mata terbelalak saat melihat sumpit seperti kemarin untuk menikmati kuah salad papaya. Oh no, again ? Muka mulai murung dan tak lama mbak Pasty datang.

 

“Lho kenapa mbak Sarah koq manyun ?”

“Aku kangen sendok , mbak. Kangen banget. Sendok, I miss you .”

Mulut semakin saya monyongkan dan mengelus dada. Mbak Patsy seketika tertawa terbahak-bahak.

 

”Mbak Sarah kangen sendok. Lucu banget” Saya pun akhirnya ikut tertawa karena malah merindukan sendok sedalam rindu orang yang lagi kasmaran.

“Tadi pagi juga kita sarapan sup dikasih sumpit. Oh next time kalau  balik ke Cambodia, aku mau bawa sendok setengah lusin, mbak.”

 

“Ternyata sendok itu fungsinya besar sekali dalam hidupku. Jangan-jangan nanti kalau kita beli ice cream dikasih sumpit juga yah.“ Masih dengan nada penuh duka lara.

 

“ Ah ada ada saja , mbak. Paling ice cream stick atau cone.” Mbak Patsy semakin tertawa dan ikut tertawa menyadari kepanikan hanya karena masalah sendok.  Hal kecil seperti sendok karena selalu tersedia di depan mata, cenderung  membuat saya  tidak  menghargai fungsinya.

 

I realize that  I shouldn’t  become ignorant and appreciate all the little thing that adds value to my life.

Dear sendok, kamu ternyata ngangenin juga.

 

“It’s the little details that are vital.”

Unknown

 

June 3rd, 2022

Bagikan ini:
error: Content is protected !!