“Sometimes the most beautiful colors are there just to help something smaller shine.”
Chloe menunduk, lalu memungut satu kelopak yang jatuh di trotoar. Ia membolak-baliknya di telapak tangan, seolah sedang menyelidiki rahasia kecil yang tersembunyi di sana.
“Mama, kenapa bunga ini bisa punya banyak sekali warna? Padahal daunnya semua hijau.” Saya ikut jongkok di sampingnya, menatap kelopak tipis yang hampir tembus cahaya itu.
“Kelopak warna-warni itu sebenarnya bukan bunga sungguhan, sayang. Itu adalah daun yang sedang berdandan seperti bunga, namanya bractea.” Chloe mendekatkan kelopak itu ke matanya. “Oh… jadi dia sedang menyamar?”
Saya mengangguk pelan. “Menyamar untuk kebaikan agar bunga kecil di tengahnya bisa lebih terlihat dan pada akhirnya serangga tahu ke mana harus datang.”
“So she’s pretending to be a flower so her tiny friend can be seen?” Saya tersenyum lebih lebar.” Bukan pura-pura, tapi membantu. Seperti saat zus Chloe memegang lampu supaya Sophie bisa membaca.”
Saya menunjuk ke pusat bougenville, tempat bunga mungil berwarna putih dan kuning pucat dikelilingi oleh bractea cerah yang membantunya lebih mudah ditemukan. Chloe terdiam, menatap dinding pagar yang dirambati bougenville.
Angin pagi menyapa lembut, membuat puluhan bractea bergoyang pelan. Warna-warnanya bukan sekadar hiasan, melainkan pesan lembut tentang cinta yang tak perlu jadi pusat perhatian, tapi tetap hadir. Cinta yang tahu caranya mundur selangkah, agar yang kecil bisa bersinar.
“Even the smallest flower can shine when someone stands beside it with love, not to outshine but to gently guide the light its way.”
Part 6.

