“When pain feels endless, your nearness is the shore.”
Langit mulai berwarna tembaga saat roda mobil mendaki jalur Trans Sulawesi. Matahari siang menyelinap di antara pepohonan, membentuk guratan cahaya tipis di atas aspal yang telah mengering.
Udara menjadi lebih sejuk dan membawa aroma pepohonan dan tanah lembap yang menusuk lembut ke hidung. Chloe, yang sejak tadi bersandar dengan wajah pucat, perlahan membuka mata.
“Mama… are we there yet?” suaranya serak, namun ada secercah harapan di ujungnya. Chris, yang memegang kemudi, sudah sejak beberapa kilometer terakhir memperlambat laju mobil.
Setiap tikungan diambil hati-hati, seperti menari di jalan sempit demi menjaga agar Chloe tak semakin car sick. Sophie di samping saya dan Nigel di kursi depan tak mengucap kata protest, meski perjalanan menjadi lebih lama.
“Sebentar lagi, sayang,” sambil tersenyum, memandang kelokan dan tanjakan yang seolah tak berujung. “Tapi ingat… yang penting bukan hanya sampai, melainkan bisa menikmati pemandangan yang sama.” Sambil melihat keluar jendela.
Chloe tersenyum tipis lalu kembali menyandarkan kepala di bahu saya. Jari-jarinya yang lentik memainkan ujung baju saya, seakan mencari irama dari getaran mobil yang melaju pelan.
Di tengah kelokan-kelokan ini, saya menyadari bahwa perjalanan bukan soal siapa yang lebih cepat sampai, tetapi tentang siapa yang rela melambat, menggenggam tanganmu dan menempuh setiap tikungan bersama.
“When your loved one is suffering and needs you, just be there with her pain and suffering. Let her feel she is not alone.” Haemin Sunim
Part 3.

