“Real love walks beside us, even when we travel alone.”
Taxi melaju pelan meninggalkan airport. Lampu jalan bergerak seperti garis tipis di jendela sementara Bangkok terasa asing dan akrab pada saat yang sama.
Sopirnya lelaki berusia sekitar lima puluh tahun. Rambutnya mulai memutih. Cara bicaranya tenang, tidak terburu-buru dan yang membuat saya terkejut, ia lancar berbahasa Inggris.
“So, business or holiday?” tanyanya sambil tetap menatap jalan. “Business.”
Ia mengangguk pelan. “I went to university and used to study English before.”
“Not long, I couldn’t afford to continue. Now I drive, but I still like to practice.”
Penjelasan singkatnya seolah menjawab kebingungan saya. Ia menoleh sebentar, lalu tersenyum. Tidak ada nada pahit di suaranya, hanya kejujuran dan ketenangan itu seperti masih tinggal lama setelah kalimatnya selesai.
“Sometimes I wait a long time for passengers. Reading helps. Otherwise the time is too slow.” Saya tertawa kecil. “Me too. When I read, I forget the waiting. If not, I just sit there staring at the airplane like we are both stuck.”
Ia ikut tertawa ringan. Entah kenapa, saya tiba-tiba ingin memastikan sesuatu lalu membuka ritsleting tas kecil dan meraba isinya. Di dalam, terselip satu novel Danielle Steel yang sejak tadi ikut menemani perjalanan.
Di halaman tengah, ada sticky note kecil berwarna kuning. Tulisan tangan yang saya kenal baik: Mama’s page. Sophie love Mama. Oh well, kadang cinta melangkah lebih jauh daripada yang sanggup saya bayangkan.
“The greatest gifts are not found in stores, but in hearts.” Roy T. Bennett
Part 26.

