“People cling to your low point to feel taller.” Jay Shetty
Di naungi langit yang masih gelap, mobil-mobil berbaris rapi di jalur menuju kapal ferry. Kapal belum tampak sehingga machine dimatikan dan orang-orang perlahan menyebar mencari tempat untuk sholat subuh.
Di sebuah ruangan yang beralih fungsi menjadi tempat sholat, saya, Chloe, dan Sophie mengeluarkan perlengkapan sholat masing-masing. Setelah selesai, saya melihat seorang wanita berdiri di sudut ruangan dengan wajah ragu.
Wajahnya terasa familiar. Ternyata ia sebelumnya saya biarkan memotong antrian di cashier saat membeli minum karena ia sedang terburu-buru. Sekarang ia tampak bingung karena tidak ada satu pun perlengkapan sholat di situ.
Saya akhirnya meminjamkan mukena dan menunggunya hingga selesai lalu ia pergi lebih dulu. Dari kejauhan, kapal ferry sudah bersandar dan antrian mobil mulai bergerak.
Kami berlari kecil menuju mobil. Saat tiba, dari belakang terdengar suara keras meminta kami cepat bergerak karena mobil di belakang tidak bisa maju. Ketika menoleh, ternyata wanita yang sama namun kini dengan tatapan tajam.
Ada rasa aneh menusuk pelan di dada. Setelah dua pertolongan kecil tadi, yang terlihat di matanya hanya keterlambatan kami. Saat itu, tangan Chloe dan Sophie tiba-tiba memeluk bahu saya dari belakang.
“It’s okay, Mama. People forget but we remember.” Pelukan mereka semakin erat. Kalimat itu turun pelan dan dalam pelukan itu, hati saya pelan-pelan kembali tenang.
“People will remember your mistakes longer than your kindness. You could give years of grace and still quote the one moment you slipped, but none of it defines you. Your consistency does.”
” Jay Shetty
Part 1.

