“The curious paradox is that when I accept myself just as I am, then I can change.” Carl Rogers
Saya memandang ke panggung sejenak lalu kembali menoleh kepada Chloe. Jemarinya masih menggenggam lengan saya dengan erat seolah ia ingin memastikan saya benar-benar di sampingnya.
Ia menatap wajah saya cukup lama. Matanya bergerak pelan seperti sedang merangkai pemahaman dengan caranya sendiri.
“Mama, so we can be thankful and tired at the same time?” Saya terdiam. Chloe memiringkan kepala sedikit. “Like when I play all day at the playground. I’m happy but my legs feel tired. It doesn’t mean I don’t like playing.”
Saya tidak menyela dan membiarkan suaranya mengalir, memenuhi ruang yang biasanya saya isi dengan jawaban.
“So maybe when you say you feel heavy” lanjutnya hati-hati “it doesn’t mean you’re not thankful. Maybe it just means you’re tired, like me after I play all day. That’s still okay, right?”
Keramaian di sekitar kami terasa menjauh, seakan memberi tempat bagi kalimat kecil itu untuk tinggal lebih lama. Saya menggenggam tangannya dengan lembut. “Iya, sayang.”
Chloe menatap saya lagi, memastikan. “Happy but tired. That’s still okay, right?” Saya mengangguk pelan. Oh well, kadang penjelasan paling jernih tentang hidup justru datang dari suara yang masih belajar mengeja dunia.
“Anything that’s human is mentionable and anything that is mentionable can be more manageable.” Fred Rogers
Part 21.

