“Journeys differ, yet each carries the same quiet truth that we are never in the same place twice.”
Saya dan Chris masih berdiri di tepi pantai, mata kami mengikuti gerak laut yang perlahan berubah warna seiring cahaya pagi yang semakin kuat. Kapal bermesin tetap melaju tenang dan banana boat diam menunggu adanya tarikan.
Tak lama setelah berdiri mengamati, dari kejauhan muncul perahu sederhana tanpa machine. Hanya sebuah layar kecil terbuka dan menangkap angin yang membawanya menuju laut lepas.
Perahu itu bergerak dengan ritme alam, pelan tapi pasti, seolah mengikuti garis yang tak terlihat. Bukan tanpa arah, melainkan dipandu oleh tangan nelayan yang tahu membaca bahasa angin.
Saya menarik napas, lalu berbisik lebih kepada diri sendiri, mungkin itu cara lain kehidupan mengajari kita. Ada yang melangkah dengan kekuatannya sendiri, ada yang ditolong oleh orang lain dan ada yang belajar menyesuaikan diri dengan arah yang datang dari luar.
Di hadapan kami, kapal bermesin, banana boat dan perahu layar sederhana menjadi tiga wajah dari cara manusia bergerak. Semua dengan jalannya dan ritmenya masing-masing.Saya berdiri diam, membiarkan pemandangan itu meresap.
Semakin lama, saya mengerti bahwa tidak ada satu perjalanan pun yang lebih benar dari yang lain. Selama ada langkah, entah lahir dari tenaga sendiri, bantuan orang lain atau bisikan intuisi, kita selalu bergerak menjauh dari titik awal.
Mungkin ke tempat yang asing, mungkin ke ruang yang belum pernah kita bayangkan atau mungkin ke sisi diri yang selama ini tersembunyi. Namun ke mana pun arahnya, tetap sebuah perjalanan yang pantas dijalani.
“Each step, whether led, pushed, or chosen, brings us closer to becoming.”
Part 14.

