“Acceptance is understanding that something is uncomfortable, yet choosing to move through it calmly, trusting that it is only a passage, not the whole journey.”
Di antrean security, barisan bergerak lambat dan semua berdiri berdekatan. Udara terasa penuh oleh suara gesekan tas, bunyi baki plastic dan pengumuman yang terdengar sayup dari kejauhan.
Di depan saya, seorang perempuan merapikan scarf-nya sambil menghela napas kecil. Wajahnya tirus, dihiasi garis-garis halus dengan mata bulat yang sedikit meruncing di ujungnya.
Rambut hitamnya disanggul rendah, rapi namun sederhana, seolah ia tidak ingin menarik perhatian lebih dari yang diperlukan. Ada kesan praktis dalam caranya berdiri, seperti orang yang tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dengan gerakan sigap dan teratur, ia membuka tas, mengeluarkan laptop, lalu melepas semua perhiasan dari bahan metal. Semua dilakukan cepat dan rapi, seperti ritual yang sudah dihafal di luar kepala, berulang kali, di banyak tempat.
Ia menoleh sedikit ke arah saya dengan senyum setengah menggantung di bibirnya, “I travel a lot, but I still don’t like this part.” Nadanya bukan keluhan, lebih seperti pengakuan kecil yang dilepaskan begitu saja di antara antrean.
Saya ikut tersenyum dan menjawab pelan, “Maybe it’s not meant to be liked, but we still have to go through it.”
Ia tertawa singkat lalu mengangguk, seolah kalimat itu merapikan sesuatu di dalam pikirannya. Antrean maju satu langkah. Kami ikut bergerak dan kembali menunggu.
“Growth begins when we are willing to be uncomfortable.” Brené Brown
Part 14.

