“We can choose to wake up and grumble all day and be bitter and angry and judge others and find satisfaction in others doing bad instead of good. Or we can wake up with optimism and love and say, ‘Just what is this beautiful day going to bring me?”
Margaret Trudeau- Canadian author and social advocate for people with bipolar disorder
Médecins Sans Frontières (MSF) atau Doctors Without Borders adalah organisasi kemanusiaan kesehatan independen berskala international yang bertugas menyediakan layanan medis darurat dengan cepat dan tidak memihak pada salah satu pihak yang berkonflik.
Mereka sangat menjunjung tinggi pada prinsip kenetralan serta etika kedokteran hingga kiprahnya di bidang kemanusiaan medis membuahkan Hadiah Nobel untuk Perdamaian pada tahun 1999.
Carolina , seorang dokter pemberani dan berjiwa tegar dari Brazil adalah orang pertama yang mengenalkan dunia MSF dan menceritakan kisah sepak terjangnya di beberapa negara yang sedang dilanda konflik. Kami sama-sama mengenyam pendidikan di The Swiss Tropical and Public Health Institute, di Universität Basel .
Pada awal berdirinya, TPH Swiss hanya berfokus pada penelitian dasar terhadap penyakit yang berhubungan dengan kemiskinan, misalnya TBC, malaria, HIV/AIDS—dan malnutrisi. Kemiskinan yang dimaksud disini tidak hanya dari segi pendapatan yang rendah , tetapi juga optimisme dalam hidup yang sangat rendah di negara-negara tersebut.
TPH Swiss semakin berkembang dan menjadi pemain penting dalam dunia public health hingga tingkat international oleh karena itu banyak expert di bidang kesehatan datang untuk menuntut ilmu lebih dalam di kampus ini.
Semangat dan ketulusan Carolina dalam bidang kemanusiaan sama kukuhnya dengan kobaran semangat Michael dan Tilahum , sahabat saya di kampus tersebut. Mereka semua adalah dokter yang rela menerjang bahaya to stand up for what they believe in .
Hari itu kami berempat yaitu Tilahum, Michael , Carolina dan saya baru saja kembali dari Altstadt Grossbasel yaitu sebuah kota tua yang terletak tepat di tepi sungai Rhein. Bangunan dan tembok tua terlihat kokoh walaupun sudah mengitari kota tersebut sejak tahun 1200-an.
Sepanjang jalan saya tak henti bertanya secara detail tentang pengalamannya menyelamatkan nyawa manusia di tengah kondisi extreme di Somalia , Congo hingga genocide di Rwanda. Selain itu alasan yang membuat ia sebagai wanita sangat berani memilih ikut MSF tanpa peduli dengan desingan peluru yang menghadang.
“Dampak positif diri saya sebagai seorang dokter riaknya lebih besar disaat saya ikut dengan MSF ini.” Carolina mulai menjelaskan. “ Kedua orang tua saya juga seorang dokter dan saya sangat mengagumi pekerjaan kalian yang sangat mulia. Lalu apa manfaat lainnya ? “raut wajah pucat membayangkan suasana perang yang pastinya penuh dengan dentuman suara senapan.
“Selama menjadi dokter di MSF, saya temui fakta bahwa rasa percaya diri dan risk taker memang lebih tinggi pada pria daripada wanita sehingga itu mempengaruhi rasa optimisme . Kita membutuhkan rasa optimisme yang tinggi demi persamaan gender di dunia ini, Sarah”Ia menjelaskan dengan nada sangat serius.
“Saya bisa membagi rasa optimisme sebagai seorang wanita lewat tulisan. Satu butir peluru bisa menembus satu orang dalam jarak tertentu, namun satu tulisan bisa menembus ke lebih banyak orang hingga jarak ribuan kilometer pun. Remember : there is nothing more dangerous than a smart woman who travel the world and can write. “ Carolina menjelaskan dengan penuh percaya diri.
“Kenapa wanita ? bukankah pria juga bisa dan sangat pandai menulis ?”Saya bertanya dengan nada penasaran. “Sebagian besar wanita berpikir dengan menggunakan perasaan atau emosi dan pria dengan logika sehingga itu akan mempengaruhi dalam gaya penulisan. Kamu pun bisa menjadi journalist” Carolina melanjutkan penjelasannya.
“Wah, wanita, pintar, sudah keliling dunia, bisa menulis. Saya tidak memenuhi semua kriteria tersebut kecuali kriteria sebagai seorang wanita” Saya cengengesan sambil garuk kepala.
“Setidaknya kamu jago gombal,itu modal utama didalam menulis” Michael tertawa terbahak-bahak dan berlari sejauh mungkin disaat saya berusaha mengejar karena protes.
Percakapan singkat dengan Carolina belasan tahun lalu mengingatkan saya bahwa optimisme bisa membantu mendobrak persamaan gender. It’s not that optimism solves all of my life’s problems, it is just that it can sometimes make the difference between coping and collapsing.
Hari ini, March 8th adalah hari tentang kesetaraan gender dan untuk pengingat bahwa despite all of my weakness, saya harus selalu lebih optimis from strength to strength.
Happy international women’s day, let’s wear our optimism boots.
“The pessimist sees difficulty in every opportunity. The optimist sees opportunity in every difficulty.”
Winston Churchill- Statesman and leader who led Britain to victory in the Second World War
March 8th, 2022

