0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“The art of being present isn’t about doing more, but about being wholly in the quiet moments that often go unnoticed.”

 

Saya masih mengamati ibu muda itu. Tangannya bergerak pelan, mengayun kereta bayinya seolah dunia tak perlu dikejar, cukup diikuti seperti arus kecil yang sabar. Gerakannya consistent, tidak tergesa, seperti gelombang lembut yang tahu betul caranya menenangkan pantai yang gelisah.

 

Lalu terdengar senandung lirih dari bibirnya. Bukan lagu utuh, hanya potongan nada dalam bahasa Jerman, nyaris seperti bisikan angin yang lewat tanpa niat berhenti. Tapi justru suara itulah yang terasa paling nyata, menyusup di antara derak rel dan tawa samar para penumpang lain.

 

Perlahan, bait-baitnya mulai akrab di telinga: Schlaf, Kindlein, schlaf… Der Vater hüt die Schaaf… Die Mutter schüttelts Bäumelein… Da fällt herab ein Träumelein… Schlaf, Kindlein, schlaf…

 

Bayinya tertidur pulas, dengan napas tenang dan tubuh yang tergelung nyaman di bawah selimut kecil. Saya terdiam, tersadar bahwa ibu itu sedang mengajarkan sesuatu yang tak bisa ditemukan dalam buku dan tak bisa dirumuskan oleh theory yaitu kehadiran.

 

 

Entah sejak kapan, saya ikut bersenandung pelan, mengikuti irama yang semula asing namun kini seperti denyut yang menenangkan. Saat saya menoleh, Michael pun tampak ikut menggumam. Kami bertukar senyum kecil karena ikut merasakan kedalaman cinta dibalik senandungnya.

 

Saat itulah saya mengerti bahwa yang paling menenangkan bukanlah makna dari tiap kata, melainkan irama lembut yang hadir dengan cinta. Merawat bukan tentang seberapa besar yang kita lakukan, tapi seberapa dalam kita hadir, diam-diam, tanpa pamrih, tapi sepenuh hati.

 

Di dalam tram yang perlahan menyusuri batas pagi, saya belajar bahwa ada cinta yang tak bersuara, tapi nyata. Ia berdiam dalam senandung yang diulang dengan sabar, dalam kehadiran yang tidak mencolok tapi selalu ada.

 

“Sometimes the loudest kind of comfort comes from the smallest act done with undivided presence.”

Part 12.

 

 

 

 

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!