“What we overlook often waits patiently, then shows its value at the right moment.”
Begitu masuk ke cabin, pramugari menyapa dengan senyum yang luwes namun hangat. “Selamat malam. Welcome on board.”
Saya mengangguk kecil dan berjalan menyusuri lorong sempit, mencari nomor kursi sambil berusaha menghindari siku dan tas yang belum sepenuhnya rapi.
Seorang penumpang bertanya pada pasangannya apakah AC memang selalu sedingin ini. Yang lain menutup ventilasi di atas kepala lalu membukanya lagi, penuh keraguan.
Tak lama setelah duduk, udara cabin mulai terasa kering. Mata saya perlahan perih, seperti ada debu halus yang menyelip dan tak kunjung pergi. Saya mengucek sebentar dengan satu mata tertutup, lalu merogoh tas.
Bungkus tissue yang tadi sempat jatuh, langsung tersentuh. Saya mengeluarkannya dan mengusap ujung mata yang mulai berair, bukan karena sedih, hanya karena udara yang terlalu dingin dan kering.
Di situ saya tersenyum kecil, bukan pada siapa pun, melainkan pada pemahaman yang datang pelan tentang bagaimana sesuatu yang semula terlihat remeh, dikembalikan tanpa suara dan akhirnya benar benar saya butuhkan.
Di ketinggian dalam cabin pesawat dan di antara orang orang yang tak saling mengenal, tissue itu akhirnya menemukan fungsinya.
“Meaning is often found in what we almost ignore.”
Part 19.

