“Sometimes the kindest hearts are those we never know by name, yet feel through their quiet care.”
Matahari mulai meninggi, walau langit belum sepenuhnya biru. Di sudut jalan, setelah melewati rumah tua yang di selimuti bougenville, aroma kue khas Thailand Selatan perlahan menyelinap, membelah pagi yang masih sunyi sebelum deru kota benar-benar bangun.
“Mama, kenapa ibu itu bangun pagi-pagi sekali?” mata Chloe mengikuti gerak tangan si ibu yang cekatan menata kue satu per satu di atas nampan. “Supaya orang-orang bisa menikmati sarapan, ditemani aneka kue cantik,” dengan suara pelan.
“But isn’t that tiring?” gumamnya sambil mengerutkan dahi. “If it’s me, I’d still be sleeping.” Saya tersenyum, lalu berhenti sejenak. “Iya, sayang, memang capek. Tapi kadang, kita melakukan hal-hal yang melelahkan karena ingin orang lain merasa senang.”
Chloe terdiam, kembali menatap ke arah ibu penjual. “So the ibu wants us to be happy?” tanyanya pelan. “Iya, membuat orang lain bahagia itu juga salah satu bentuk ungkapan cinta.”
Saya melanjutkan, “Mungkin ia tidak mengenali kita satu per satu, tapi ia ingin pagi kita dimulai dengan sesuatu yang hangat. Happy tummy, happy heart.” Sambil tersenyum, saya mengusap perut lalu dada, memberi isyarat bahwa kehangatan bisa terasa dari perut hingga ke hati.
Chloe tidak menjawab, tapi caranya memandangi kue-kue itu perlahan berubah. Ada kehati-hatian yang baru dalam sorot matanya, seperti seseorang yang mulai memahami bahwa dunia ini tersusun dari hal-hal kecil yang sering luput terlihat.
Dimulai dari tangan-tangan yang terjaga sebelum fajar, mencuci daun, mengaduk adonan, membungkus satu per satu, hingga menyusun kue-kue cantik di atas nampan dengan penuh kehangatan. Sebentuk cinta yang hadir tanpa suara dan tanpa perlu dikenal namanya.
“Care doesn’t always come with a name tag. Sometimes, it’s just there, quietly waiting to be noticed.”
Part 10.

