0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Movement takes many forms, yet each one carries us onward.”

 

Saya dan Chris menapaki pasir yang masih dingin oleh sisa angin malam. Udara subuh membawa aroma asin laut bercampur dengan embusan angin, langkah kami pelan, hanya ditemani suara ombak yang berulang memecah di tepi pantai.

 

Dari arah horizon, cahaya orange tipis mulai muncul, membuat laut berkilau samar seperti kaca retak yang ditembus cahaya pagi. Tangan Chris dimasukkan ke dalam saku celana, seolah ingin menyimpan kehangatan di antara sejuknya udara.

 

Di kejauhan, sebuah kapal kecil bermesin melaju perlahan dengan tenang menembus gelombang. Chris menatapnya lama, “Look, the boat with a machine doesn’t need the waves, it moves on its own, but that one only moves when it’s pulled.”

 

Chris tersenyum kecil sambil menunjuk banana boat berwarna biru kuning mencolok yang terparkir di bibir pantai. Ia hanya bisa bergerak jika ditarik kapal bermesin  dan saya ikut menatap ke arah laut, memperhatikan keduanya.

 

“Maybe that’s what life shows us,” saya berkata pelan. “Some of us carry our own engine, some of us are waiting to be pulled by others  and some are pushed by the waves. What matters is that we’re still moving.”

 

Chris mengangguk, matanya tetap pada kapal kecil yang menjauh ke tengah laut. “Yes. The journey doesn’t look the same for everyone, but it’s still a journey.” Laut pagi tetap berkilau, seakan ikut menyetujui kata-katanya.

 

 

Di tepi pantai itu, saya menyadari bahwa setiap langkah punya cara untuk terus berjalan. Ada yang ditarik oleh orang lain, ada yang digerakkan oleh kekuatan dari dalam dan ada yang mengikuti dorongan gelombang.

 

“Every path moves in its own rhythm, some by choice, some by chance.”

Part 13.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!