“We do not remember days, we remember moments.” – Cesare Pavese
Kami meninggalkan warung itu perlahan. Suara sapu lidi masih terdengar samar, bercampur dengan desiran angin laut. Jalan menuju villa sederhana kami dipenuhi aroma garam dan suara sandal yang beradu dengan pasir.
Sophie berjalan di samping saya, langkahnya kecil tapi penuh rasa ingin tahu. Ia menoleh pada langit yang kini berubah menjadi jingga keemasan. “Mama, why do the most beautiful skies always feel like they fade too fast?”
Saya menatap warna senja, lalu menjawab pelan, “Mungkin karena cepat berlalu, kita belajar menikmatinya lebih sungguh-sungguh. Seperti hari-hari kita, meski sebentar, tetap bisa tinggal lama dalam ingatan.”
Kami terus melangkah, melewati deretan pohon kelapa yang bergoyang pelan seolah ikut mendengarkan percakapan kecil kami. Udara senja terasa hangat di kulit, membawa campuran bau laut dan tanah yang lembap.
Sophie menggenggam tangan saya erat, seakan takut keindahan itu hilang begitu saja. Chloe dan Nigel berjalan tidak jauh di belakang bersama Chris, sementara Chloe sesekali berhenti untuk mengamati kerang yang terselip di pasir.
Sesampainya di villa, saya melihat wajah Sophie masih menyimpan sisa cahaya senja, lembut dan hangat seperti langit yang baru saja pamit. Dalam hati saya sadar, mungkin hidup memang tidak meminta kita untuk menggenggam senja selamanya.
Cukup merawat sekejap yang singgah dan membiarkannya menempel di ingatan. Justru dari hal-hal yang singkat tersebut kita belajar bahwa indah tidak harus lama, cukup meninggalkan jejak yang bertahan.
“The most beautiful moments always seem to accelerate and slip beyond one’s grasp just when you want to hold on.” – E.A. Bucchianeri
Part 7.

