“Helping another bloom does not make your garden fade.” – Morgan Harper Nichols
Suasana booth semakin ramai seiring waktu berjalan. Suara tawa, canda dan sapaan bercampur dengan aroma tea serta kilau lampu yang memantul di permukaan perhiasan.
Di tengah riuh itu, Mbak Patsy memperhatikan ibu muda di hadapannya. Di kedua pergelangan tangan sang ibu, bergelantungan kantong plastic kecil dari berbagai booth dengan warna yang beragam serta motif beraneka ragam.
Tangannya tampak lelah menahan semua beban, namun wajahnya tetap tersenyum ramah. Melihat itu, Mbak Patsy spontan berkata dengan lembut, “Let me put all of these together, it’ll be easier to carry.”
Ia mulai mengumpulkan kantong-kantong kecil itu satu per satu, lalu menatanya di dalam tas kain perca yang kuat itu. Gerakannya pelan dan penuh perhatian, seolah sedang merapikan sesuatu yang lebih dari sekadar barang belanjaan.
Saat Mbak Patsy membantu memasukkan belanjaan dari booth lain ke dalam tas kainnya, ia tidak melihat siapa pun sebagai pesaing. Ia hanya ingin meringankan beban seorang ibu yang tangannya sudah penuh, yep, sesederhana itu niatnya.
Ketika tas itu akhirnya tertutup rapi, ibu muda itu menatapnya lembut. “You have such a kind heart.” Mbak Patsy tersenyum kecil. “Ah, it’s nothing,” ujarnya, meski kebaikan yang tulus jarang sekali benar-benar bernilai ‘nothing’.
Lebih dari itu, saat kita memberi tanpa melihat siapa pun sebagai pesaing, ada kedamaian yang tumbuh perlahan. Seolah hati mengerti bahwa kebaikan tak pernah membuat kita kehilangan apa pun, justru menambah sesuatu yang tak terlihat namun terasa.
“When you stop seeing rivals, the world starts to feel lighter.”
Part 2.

