“Daring to set boundaries is about having the courage to love ourselves, even when we risk disappointing others.” Brené Brown
Suasana di meja check-in sibuk ditemani suara roda koper dan bisik-bisik penumpang yang mengalun pelan. Saya baru saja meletakkan koper kecil di counter check in ketika seorang wanita menghampiri.
Ia tersenyum sopan, mencoba menutupi rasa lelahnya. “Permisi,” dengan nada lembut, terlalu lembut bahkan, “apakah mungkin saya menggunakan jatah bagasi Anda? Anda tidak membawa bagasi dan bagasi saya over weight.”
Saya menatapnya dan bisa merasakan beban di balik kata-katanya dan kepenatan yang tampak jelas. Namun, tanpa berpikir panjang, saya menggeleng dengan wajah tetap tersenyum namun tegas.
“Maaf, tidak bisa.” Tidak perlu penjelasan panjang karena saya yakin ia pun mengerti bahwa membiarkan orang asing memakai jatah bagasi itu terlalu berisiko karena tidak tahu apa isi di dalamnya illegal atau tidak.
Ia langsung terkejut akan jawaban saya yang tanpa basi-basi dan ia akhirnya mengangguk pelan. Kekecewaan terpancar di wajahnya, tapi ia hanya bisa berkata lirih masih bercampur rasa kaget yang belum hilang, “Terima kasih.”
Berdiri di sana, saya menyadari satu hal sederhana namun penting bahwa kebaikan bukan berarti menghapus semua batasan. Bersikap dermawan itu tentunya indah, tapi tidak boleh mengorbankan keselamatan sendiri.
Saya tersenyum pelan sambil melangkah menjauh dari counter check-in dengan koper kecil di tangan. Ada ketenangan karena menyadari bahwa peduli pada orang lain paling indah ketika kita tetap bisa menjaga diri sendiri.
“Boundaries aren’t just for keeping others out. They are for protecting what matters most within you.”
Part 12.

