“The heart doesn’t schedule kindness. It simply responds.”
Hari pertama tradeshow di Nanning selalu membawa suasana yang khas. Aula besar itu dipenuhi percakapan dalam berbagai bahasa ditemani aroma tea,aneka corak kain batik dan kilau lampu yang memantul di permukaan perhiasan.
Di antara deretan booth yang ramai, Mbak Patsy berdiri dengan senyum yang tak pernah hilang. Di mejanya, deretan tas kain perca bermotif lucu tersusun rapi, menemani koleksi perhiasan mutiara dan batu yang ia bawa dari Indonesia.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, para pelanggan setianya memang selalu datang di hari pertama agar bisa berbelanja sebelum stocknya habis. Hari itu pun, seorang ibu muda datang dengan langkah cepat dan wajah antusias.
Saat membungkus puluhan perhiasan yang telah dibeli pelanggan itu, Mbak Patsy sempat ragu menatap tas kertas yang sudah disiapkannya. Ia tahu, tas itu tak akan cukup kuat menahan berat semua belanjaan sang ibu.
Tanpa banyak pikir, ia mengambil salah satu tas kain yang seharusnya dijual, lalu menyerahkannya dengan senyum tulus. Ibu muda itu menatapnya dengan mata yang sedikit berkaca. “You’re giving this one? It’s beautiful.”
Mbak Patsy tersenyum kecil dan mengangguk. Ibu itu kemudian menepuk tangannya pelan, seolah ingin mengatakan sesuatu yang lebih dari sekadar terima kasih.
Di tengah hiruk pikuk tradeshow, apa yang dilakukan Mbak Patsy adalah suatu kebaikan yang lahir begitu saja, tanpa rencana dan tanpa alasan namun meninggalkan kesan yang bertahan jauh lebih lama daripada kilauan perhiasan.
“When kindness comes uninvited, it feels the most genuine.”
Part 1.

