VIN + OMI adalah label fesyen yang diambil dari nama kedua orang desainer pendirinya. Vin dan Omi adalah dua orang yang berasal dari negara berbeda, berkolaborasi membentuk sebuah label pakaian. Vin berasal dari Inggris, sedangkan Omi asalnya dari Singapore. Mereka sudah menjalin kerja sama selama lebih dari 10 tahun hingga saat ini.
Keduanya saling berbagi selera dalam seni kontemporer hingga kemudian merasa memiliki ikatan dan akhirnya memutuskan untuk berkolaborasi. Desain yang diciptakan mereka terkesan unik, bergaya eksentrik, dan ramah lingkungan. Duo desainer pendiri label ini menciptakan pakaian berkelanjutan dari bahan-bahan hasil daur ulang atau material yang diperoleh secara organik.
VIN + OMI Bukan Sekadar Label Fesyen Biasa
Vin dan Omi mengklaim bahwa mereka bukan hanya sekadar label fesyen, melainkan sebuah ideologi. Pendirinya merupakan pemenang penghargaan fesyen dan desainer multimedia yang bekerja dalam skala internasional. Mereka menerima penghargaan NESTA atas inovasinya dalam fesyen, penelitian, dan model bisnis unik mereka.
Bisnis yang mereka jalankan fokus pada pendekatan berkelanjutan, begitu pula dengan desain dan tekstil mereka. Melalui inovasi eco dan dampak sosial yang diciptakan VIN + OMI membuat mereka menjadi salah satu pelopor merek fesyen yang ramah lingkungan saat ini.
Ciri khas dari label ini adalah desainnya yang memainkan potongan-potongan konseptual dan inovatif, pendekatan kontemporer, dan sangat mengikuti musik dan pop culture. Gaya pakaian dari label ini memadukan hasil cetak yang kuat, siluet tebal, dan tekstur yang lebar. Desainnya sangat dipengaruhi oleh isu-isu sosial dan lingkungan yang terjadi baru-baru ini.
VIN + OMI Hadir di London Fashion Week
Merek yang diciptakan Vin dan Omi turut memamerkan desainnya dalam ajang London Fashion Week yang digelar beberapa waktu lalu. Uniknya, desain yang mereka tampilkan sama sekali diluar dugaan. Duo desainer Vin dan Omi membuka acara enam hari dengan koleksi musim semi/musim panas 2019 mereka yang terbuat dari tanaman cow parsley.
Tanaman tersebut umumnya digunakan untuk menghias semangkuk sup. Namun, dengan cerdasnya duo desainer ini menyulap tanaman itu menjadi bahan untuk pakaian. Cara yang dilakukan mereka adalah mencampurkan cow parsley dengan linen (flax) dan ditenun menjadi kain ramah lngkungan. Mereka menamai kain tersebut dengan sebutan “Flaxley”.
Penampilan kain ramah lingkungan tersebut ditemani dengan kain metal hibrida. Kain yang satu ini dibuat dari kaleng-kaleng yang dikumpulkan oleh para tunawisma dalam program pendukung di Birmingham.
Selain itu, ada pula tas dari daur ulang botol plastik yang melengkapi penampilan desain Vin dan Omi. Mereka mendapat sampah botol plastik sebagai bahan utamanya dari pameran pakaian pria pada bulan Juli sebelumnya. Botol-botol dikumpulkan, didaur ulang, dan ditenun oleh siswa jurusan Fashion di London College.
Vin dan Omi mulai mengembangkan kain ramah lingkungan sejak tahun 2004. Mereka fokus pada lingkungan dan mendukung masyarakat lokal. Dua kesuksesan besar yang telah mereka capai adalah menciptakan lateks ramah lingkungan dari perkebunan karet yang mereka danai di Malaysia dan “kulit” vegan yang terbuat dari kulit chestnut.
Kedua perancang ini telah mengembangkan 11 tekstil ramah lingkungan, termasuk kain seperti wol yang terbuat dari daur ulang botol plastik. Awalnya mereka membuat kaus dari bahan daur ulang botol plastik. Hasil kainnya sangat lembut, seperti campuran katun-kasmir. Dari situlah mereka terobsesi untuk kembali membuat produk baru selanjutnya.
Proses daur ulangnya cukup sederhana, botol plastik diiris tipis, mereka akan meleleh dan meregang, akhirnya berubah menjadi benang yang dapat ditenun layaknya kain. Proses pembuatan seperti ini berbeda dengan merek fesyen besar yang biasa memproduksi pakaian yang berakhir di gudang atau dikirim ke TPA.
Menumpuknya pakaian di tempat pembuangan akhir membuat Vin dan Omi mencoba menemukan cara baru mendaur ulang produk yang sudah mereka buat agar tidak berakhir menjadi sampah. Caranya, pembeli yang sudah bosan dengan barang yang mereka beli dapat dikirim kembali kepada desainernya untuk kemudian digunakan kembali di koleksi mendatang. Keuntungan bagi pembeli tersebut adalah ia akan mendapat diskon pada pembelian barang berikutnya.
Menurut Omi, itu bukanlah sebuah ide cemerlang karena sejatinya sama saja mereka membeli pakaian mereka kembali. Tetapi, poin yang terpenting adalah sirkulasinya. Artinya, para desainer mendapat uang lagi dengan menjual desain baru. Cara ini pun cukup membantu mengurangi polusi yang ditimbulkan industri fesyen.
Oleh karena itu, biasakanlah mendaur ulang barang-barang fesyen atau lainnya yang tidak terpakai. Daripada berakhir menjadi sampah, lebih baik memanfaatkannya kembali dan memberi nilai yang baru dengan memodifikasinya. Cara ini telah dicontohkan oleh duo desainer VIN + OMI.



