“Togetherness is tasted best when the first bite waits for every hand.”
Chloe menatap bakso jumbo di depan saya dengan mata penuh rasa ingin tahu, sementara Chris sesekali melirik dengan senyum tipis, seakan menunggu apa yang akan kami katakan.
Uap kaldu hangat naik perlahan, menyebarkan aroma gurih yang bercampur dengan wangi bawang goreng dan taburan seledri segar.
Suara sendok yang beradu dengan mangkuk dari meja lain menambah riuh yang akrab, namun di meja kami hanya ada diam yang penuh pengertian.
Pesanan semangkuk bakso saya tiba lebih dulu, dengan kuah bening berkilau dan mie kuning yang terbenam di dalamnya.
Lalu milik Chris menyusul, lengkap dengan potongan tahu dan bihun putih yang mengapung di permukaan. Terakhir, mangkuk Chloe datang, masih mengepulkan uap, bakso bulat besar menunggu untuk dibelah.
Namun tak ada yang segera menyentuh sendoknya. Kami duduk membiarkan hangatnya mangkuk tetap utuh, seolah menunggu tanda kecil yang hanya bisa dimulai ketika semua pesanan sudah hadir di meja.
Dalam jeda itu, kebersamaan terasa lebih kuat daripada rasa lapar itu sendiri. Saat sendok akhirnya diangkat bersamaan, yang hadir bukan hanya rasa kenyang, tetapi juga hangatnya perasaan saat menikmati makanan sebagai satu kesatuan.
“A table becomes home when no one begins before the last plate arrives.”
Part 42.

