“Sometimes life keeps asking us to step back not because we failed, but because there is still something we are holding without realizing it.”
Tray plasticnya sudah meluncur lebih dulu, laptop tersusun rapi di atasnya, scarf terlipat dan jam tangan terlepas. Ia menggeser berat badan dari satu kaki ke kaki lain, menunggu giliran dengan ekspresi yang tetap tenang.
Barang-barangnya menghilang ke dalam mesin X ray lalu melangkah melewati pintu pemindai dan bunyi beep terdengar nyaring. Ia berhenti, lalu tertawa pendek. “Oh no.”
Petugas mengangkat tangan, menunjuk ke arah ikat pinggangnya. Ia menepuk pinggangnya sendiri dan baru sadar kalau masih melekat dipinggangnya. Gesper dilepas, dimasukkan ke tray plastic lalu ia mencoba lagi.
Beep dan ternyata masih berbunyi. Ia menghela napas kecil sambil melepas anting. “I swear, I already took everything off.” Petugas tersenyum tipis. “There’s always one more.”
Ia mundur lagi, membuka cincin satu per satu, lalu melepas kalung tipis yang semula tersembunyi di balik scarf. “This is getting ridiculous,” katanya, lebih kepada dirinya sendiri, dengan senyum yang pasrah.
Petugas hanya mengangguk. Ia melangkah maju lagi. Beep terdengar sekali lagi. Kali ini tawanya lebih lepas, hampir seperti menyerah. “Okay, last one,” sambil melepas tusukan konde dari rambutnya dan meletakkannya ke tray.
Rambutnya terurai dan ia berdiri kembali di depan pintu pemindai. Bunyi itu masih terdengar, memintanya mundur satu kali lagi. Ia menurut tanpa protest, seolah sudah menerima bahwa process ini memang belum selesai.
“Nothing ever goes away until it teaches us what we need to know.” Pema Chödrön
Part 15.

