“To describe my mother would be to write about a hurricane in its perfect power.” Maya Angelou
Tadi pagi, saya menemukan sebuah drawing book lama di dalam lemari. Di dalamnya masih tersimpan banyak gambar yang pernah mereka buat ketika masih kecil.
Garis-garisnya sederhana tetapi terlihat digambar dengan sangat serious dan penuh cinta. Di salah satu halaman ada gambar seorang wanita.
Rambutnya sedikit berantakan. Salah satu bagian lengan bajunya tampak turun dari bahu sehingga tidak sejajar dengan yang lain. Saya sempat tertawa kecil melihatnya.
“Wah, cantik sekali gambarnya, sayang.” Chloe langsung menjawab “That’s you, Mama.” “Oh, ini Mama ya tapi lengannya yang sebelah ke mana?” sambil tersenyum.
Chloe tersenyum lebar. “This is what you look like with your daster after cooking when Mbak Waty and Mbak Narti mudik to their kampung halaman. You had to cook everything for us by yourself.”
Saya tersenyum saat mengingat percakapan singkat itu. Kini mereka sudah jarang menggambar seperti dulu. Dunia mereka sudah jauh lebih luas dari selembar kertas.
Namun gambar kecil itu masih tinggal di hati saya. Ternyata bagi seorang anak, bahkan daster yang sedikit melorot dan rambut yang berantakan pun bisa menjadi tanda kehadiran yang menenangkan.
“There is no way to be a perfect mother, and a million ways to be a good one.”

