0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Beauty lies not in permanence, but in presence.”

 

Kami terus melangkah ditemani dengung serangga malam yang baru bangun dari persembunyiannya. Angin yang membawa asin air laut bercampur dengan wangi bunga liar di sekitar, menebar aroma yang samar namun hangat.

 

Dari kegelapan, tampak bunga kangkung laut tumbuh di tepi pasir. Mekarnya hanya sebentar lalu gugur, namun akarnya terlihat menjalar, menahan butiran pasir agar tidak hanyut bersama ombak.

 

Sophie menunduk lalu memungut bunga ungu kecil berbentuk terompet yang tergeletak di pasir. Ia memutarnya pelan di jari-jarinya, lalu berbisik lirih, “Oh no, it’s already wilted.”

 

Saya menatap matanya yang masih melekat pada kelopak itu lalu tersenyum kecil, “Biarpun cepat layu, bunganya tetap indah karena pernah mekar, sayang.” Saya rapikan helai rambut yang menempel di pipinya, ditiup oleh angin laut.

 

Kami berjalan lagi, meninggalkan jejak samar di pasir yang sebentar lagi dihapus oleh ombak malam. Bulan terlihat naik lebih tinggi, menumpahkan cahaya perak di atas permukaan laut.

 

Sophie masih menggenggam bunganya erat, seolah enggan membiarkannya hancur atau terbang bersama angin. Namun justru di genggamannya, bunga itu terasa bertahan sedikit lebih lama, seakan tahu masih ada yang menghargainya.

 

Di bawah langit penuh bintang, saya biarkan keheningan berbicara. Malam itu mengajarkan sesuatu yang sederhana bahwa keindahan tidak diukur dari lamanya ia bertahan, melainkan dari jejak yang sempat ditinggalkan.

 

“It is not how long something lasts, but that it lived fully in its time.”

Part 8.

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!