“Life feels dull when everything moves too fast to notice it.”
Pikiran saya perlahan kembali ke klinik, setelah sempat melayang sebentar ke kenangan saat Chloe pernah menemani saya tradeshow di Manila.
Mobil kini melaju pelan meninggalkan klinik gigi. Pantulan gedung di kaca jendela tampak seperti bayangan yang ikut berjalan pulang bersama kami.
Chloe duduk di samping dengan sabuk pengaman terpasang rapi. Jemarinya memainkan ujung baju saya pelan, seolah memastikan saya benar-benar ada di sana.
“Mama, today was scary but also fun. Is that weird?” katanya lirih. Saya tersenyum tipis. “Tidak aneh, sayang. Banyak hal memang terasa campur aduk.”
Ia mengangguk kecil lalu menatap jalan di depan. “The dentist was scary. But I made it.” Kalimatnya sederhana namun terasa seperti mengetuk sesuatu di dalam hati saya.
Di luar, klakson saling bersahutan dan orang orang berjalan tergesa. Chloe memperhatikan kendaraan yang melintas lalu berkata pelan “Everyone’s so fast. I like when the car is slow so I can see things. Fast feels blurry.”
Bagi dirinya, pelan berarti sempat melihat dan mungkin ia benar. Hal hal kecil seperti perjalanan pulang dengan kepala kecil yang bersandar tenang di bahu saya, diam-diam adalah kemewahan yang kadang saya lupa untuk rasakan.
“The simple things are also the most extraordinary things.” Paulo Coelho
Part 22.

