“A moment’s care now can save a long walk back later.”
Saya kembali menatap tangan bapak itu, yang sabar mengangkat, memutar, lalu mengembalikan telur satu per satu. Gerakannya pelan, seolah tak mau terburu oleh waktu.
“Bapak sabar dan telaten sekali,” ucap saya pelan, sekadar memecah keheningan yang terasa mengambang di antara deretan rak. Bapak itu menoleh, senyumnya hangat, seperti senyum yang sudah lama akrab dengan kesabaran.
“Iya,” katanya pelan. “Kalau sudah sampai di rumah, susah mau tukar lagi. Lebih baik repot sebentar di sini.”
Saya mengangguk. “Berarti lebih baik repot di awal daripada menyesal di belakang yah, Pak.” “Betul,” sambil menutup kotak telur dan jemarinya menekan pinggiran cardboard hingga rapat.
Pandangan saya terarah ke jendela, membayangkan bahwa hidup pun seperti itu. Kita sering ingin cepat sampai, padahal kadang yang justru menyelamatkan adalah waktu yang kita pakai untuk berhenti sejenak untuk memeriksa langkah.
Kata-katanya tentang “repot di awal” masih menggantung di udara saat menatap punggungnya yang perlahan menjauh. Cahaya lampu putih yang memantul di lantai menuntunnya menuju lorong berikutnya.
Di tengah riuh suara dari arah cashier yang terus bergema, saya tersadar bahwa tidak semua jeda berarti kita tertinggal. Kadang, di dalam jeda itulah kita memastikan segalanya tetap di tempatnya.
“A pause today can save a stumble tomorrow.”
Part 20.

