“The most underrated skill in life is the ability to show up, even when you don’t feel like it.” Lewis Howes
Bus mulai melambat, menyusuri jalan sebelum berhenti sejenak di lampu merah. Deretan gedung kaca di Gloucester Road terbentang di depan dan Immigration Tower berdiri tegak seperti penanda bahwa perjalanan pagi ini hampir usai.
Namun hati saya belum sepenuhnya sampai. Masih tertinggal di deretan kursi bersama suara-suara yang tadi mengalir mulai dari kisah toilet yang harus dibersihkan hingga larut malam hingga weekend yang dipenuhi jadwal lembur.
Awalnnya saya mengira hanya menumpang bus, tapi ternyata sedang menumpang sejenak di dalam kisah orang lain.
Pagi ini, saya menyaksikan pelajaran tentang hadir. Bukan hadir yang bersinar dan bukan pula hadir yang ditunggu-tunggu. Tapi hadir yang tetap datang meski tidak ada tepuk tangan dan tetap berjalan meski hati sedang letih dan terkoyak.
Ada kekuatan dalam cara mereka melangkah. Bukan karena tidak pernah ingin berhenti, tapi karena memilih tetap berjalan meski tak selalu dihargai dan meski rasa lelah tak diberi jeda.
Mungkin inilah salah satu keterampilan paling sunyi dalam hidup yaitu kemampuan untuk tetap menjalani hari, bahkan saat rasanya ingin menyerah.
Saya mungkin tak akan mengingat wajah dan nama mereka satu per satu, tapi pelajaran pagi ini akan tetap tinggal. Mereka mengajarkan tentang hadir, bukan sekali, tapi setiap hari dan semua tanpa perlu sorotan dan tepuk tangan.
“Some mornings you rise not because you’re ready, but because something in you refuses to stay hidden beneath the weight. Showing up, even tired, is still a kind of triumph.”
Part 33.

