“When we find that things are getting tough, a warm, wordless embrace can have more healing power than a logical, point-by-point explanation of why things are so difficult.” Haemin Sunim
Sejak menuju Makale, jalan mulai menanjak, berliku-liku seperti benang panjang yang dilemparkan di punggung bukit. Di baris kursi paling belakang, Chloe mulai terdiam dengan wajah sangat pucat.
Dengan panik dan tanpa banyak bicara, saya menggeser duduk untuk pindah ke kursi belakang. Saya perlahan mencoba mencari tangan kecilnya dan menggenggam perlahan seperti ingin mengatakan “mama ada di sini” tanpa suara.
Ia menoleh sebentar lalu pelan-pelan bersandar di bahu. Tangannya melingkari leher saya, memeluk erat seakan ingin menambatkan dirinya pada sesuatu yang tak bergerak di tengah jalan yang berkelok.
Saya membalas pelukan hangat Chloe tanpa ada kata dan rentetan pertanyaan. Hanya suara machine mobil yang bergumam, derit suspensi dan napas kami yang mengikuti irama jalan.
Dalam pelukan itu, kehangatan mengalir pelan, menenangkan lebih dari apa pun yang bisa dijelaskan dengan kata. Seolah tikungan-tikungan tajam di luar jendela melambat dan memberi kami jeda untuk bernapas.
Ternyata, di saat seperti ini, yang dibutuhkan bukan penjelasan panjang, melainkan sedikit ruang untuk merasa nyaman, meski jalan berliku dan perut ikut meronta.
“Although I cannot get rid of your pain, I will still stand by your side and stick with you even during the most difficult times. The warmest way of expressing this is through a hug.” Haemin Sunim
Part 2.

