“Every vessel carries not only people, but also the weight of prayers unspoken.”
Saya melangkah lebih dekat ke arah para pekerja yang tak peduli terik matahari yang jatuh lurus di atas kepala. Kayu-kayu besar terbentang di hadapan mereka yang sebagian besar sudah tersusun menjadi rangka.
Seorang lelaki yang lebih tua menghentikan pekerjaannya ketika saya menyapa. Tangannya penuh serbuk kayu dengan tatapan yang tajam namun tenang, seakan siap meneruskan ilmu yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Dengan sabar ia menjawab seluruh rasa ingin tahu saya. “Tahap pertama untuk bikin kapal ini, kita tentukan dulu hari baik untuk cari kayu. Biasanya tanggal lima atau tujuh,” ucapnya dengan logat Bugis yang kental.
Lalu ia menambahkan, “Orang tua dulu bilang, lima itu tandanya rezeki sudah ada di genggaman, kami sebut naparilimai dalle’na.Nah, kalau tujuh, itu dari kata natujuangngi dalle’na, artinya rezeki datang terus, tidak pernah putus.”
Saya menatap kembali rangka kapal yang menjulang seperti tulang punggung makhluk laut yang menunggu jiwanya, lalu berkata pelan, “Jadi, kata lima dan tujuh itu bukan sekadar angka. Ada doa yang diselipkan sejak awal yah, Pak.”
Membangun kapal phinisi ternyata bukan hanya soal tenaga dan keahlian. Dalam menentukan hari baik, mereka selalu menyelipkan harapan dan doa, agar setiap langkah pertama membawa kapal itu menuju perjalanan yang diharapkan.
Lima dan tujuh pun hadir bukan sekadar hitungan di calender, melainkan pilihan hari yang sejak awal sudah ditenun dengan doa, lalu dijaga agar tetap hidup sepanjang proses hingga kapal siap mengarungi laut.
“A phinisi boat holds not only wood, but the quiet breath of hope.”
Part 44.

