“When words slipped past our understanding, imagination took the lead, weaving laughter into every moment.”
Tiba-tiba Chloe menyipitkan mata, seolah menangkap bayangan yang baru saja menari di benaknya. Wajahnya setengah serious, setengah iseng, seakan ia pun larut dalam permainan kecil yang kami bangun di depan leaflet menu yang sunyi dari gambar dan makna.
“Then if we don’t pay the 10 baht delivery fee… maybe they’ll just throw the food from the kitchen straight to our table. We’ll have to catch it, Mama. Like circus performers.”
Chloe mengangkat tangan ke udara, seolah sedang menyambut sebungkus pad thai yang terbang. Saya menahan tawa, membayangkan mangkuk-mangkuk melayang seperti burung yang enggan pulang, berputar di udara mencari tempat hinggap.
“Kalau begitu, semestinya mereka sediakan jaring, bukan sendok,” sahut saya, menoleh pada Mbak Patsy yang kini menggigit bibirnya menahan tawa, tapi senyumnya sudah lebih dulu lolos dari sudut matanya.
“Atau helm,” timpal Mbak Patsy, “supaya kalau kita tidak berhasil menangkapnya, kita tidak pingsan terkena tom yam panas.” Tawa kami pecah kembali, riuh tapi jernih seperti percikan hujan pertama yang jatuh di atas atap seng.
Chloe, kini benar-benar tenggelam dalam panggung imajinasi, mengangkat dagu dengan gaya dramatis kecil. Saya tersenyum, lama, melihat wajah kecil itu bersinar dalam absurditas yang ia rangkai sendiri. Ada kepolosan yang bijak di sana, seperti teka-teki yang belum selesai ditulis.
Kami masih berdiri di depan papan menu, tapi dunia telah bergeser. Huruf Thai yang melengkung itu tak lagi membisu. Di balik bahasa yang tak kami mengerti, tumbuh bahasa lain. Bahasa tawa, teka-teki, dan imajinasi yang perlahan terajut dalam satu baris cerita yang utuh.
“Imagination fills the gaps where language leaves off”
Part 24.

