“When you feel dim, remember that even stars fade before they rise again.”
Sophie mulai menguap pelan lalu menutup mulutnya dengan tangan kecilnya yang masih hangat setelah memegang cangkir tea. Saya tersenyum melihat wajahnya yang mulai lelah.
Di kejauhan, suara ombak terdengar lebih tenang, seperti sedang ikut beristirahat. Saya melirik jam di dinding dan ternyata sudah lewat pukul sembilan malam.
“Come on, sayang. Time to head back.” Sophie mengangguk lalu berdiri sambil menggenggam tangan saya. Langkah kami pelan saat menyusuri jalan kecil menuju cottage yang diterangi cahaya bulan separuh.
Udara malam terasa lembut di kulit dan membawa aroma garam serta rumput yang masih basah. Di sepanjang jalan, hanya suara sandal kami yang terdengar, berpadu dengan desiran angin yang menyinggung daun kelapa di kejauhan.
Ketika kami sampai di depan pintu, lampu teras berkelip sebentar sebelum akhirnya menyala. Sophie menatapnya beberapa detik lalu berbisik, “Looks like it’s trying to get its light back.”
Saya menatap cahaya yang kini stabil. Sophie mengedip pelan dan matanya hampir tertutup. “Sometimes I flicker too… kinda like right now,” sambil tersenyum kecil sebelum kembali menguap dan membuat saya tertawa kecil.
Sebelum lampu kamar dipadamkan, saya sempat berpikir bahwa hidup memang seperti cahaya kecil itu. Ada saat ketika sinarnya meredup, tapi bukan berarti padam. Mungkin yang dibutuhkan hanyalah waktu untuk bersinar kembali.
“A flicker is not failure. It is light remembering how to shine.”
Part 16.

