“What lasts long is not hurried hands but steady devotion.”
Kami masih duduk di meja kayu ketika Chloe menoleh dengan mata berbinar. “Why don’t we go see where they build the phinisi boats? Papa would love that.” sambil memainkan sendok yang kini sudah kosong.
Saya melirik jam dan masih beberapa jam sebelum Sophie dan Nigel selesai diving. Waktu yang cukup untuk ke Tana Beru, desa di tepi laut tempat kayu dirakit perlahan menjadi perahu raksasa yang kelak mengarungi samudra.
Perjalanan singkat akhirnya membawa kami ke bibir pantai. Dari kejauhan terlihat rangka kayu menjulang, tegak seperti tulang punggung seekor makhluk laut yang sedang menunggu jiwanya.
Aroma kayu berpadu dengan aroma asin air laut juga terasa, menghadirkan suasana yang tenang sekaligus sarat sejarah dan kesabaran.
Beberapa lelaki bekerja dalam diam dan tangan mereka dipenuhi oleh debu kayu dan bergerak dengan lambat namun teratur.Semua itu mereka lakukan tanpa ada gerakan yang tergesa-gesa.
Seolah setiap pasak dan pahatan bukan hanya menyusun kapal, melainkan juga menanamkan jiwa pada sesuatu yang kelak akan menantang gelombang. Kami membiarkan angin laut menyapu wajah dan membawa rasa kagum yang sulit dijelaskan.
Bukan hanya karena melihat perahu yang megah lahir dari bongkahan kayu, tetapi pengingat halus bahwa membangun dengan hati adalah satu-satunya cara agar sesuatu bisa benar-benar bertahan dalam perjalanan panjang.
“The strongest foundation is built on the patience of the heart.”
Part 43.

