0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“The quiet glow of sunlight slips through sorrow, a soft reminder that we’re not alone.”

 

Di luar jendela, langit berpendar dalam warna-warna yang nyaris tak bernama saking indahnya. Terlihat campuran orange yang merunduk, pink yang enggan pergi, dan ungu yang perlahan merambat dari tepi cakrawala.

 

Cahaya keemasan menari pelan di permukaan kaca, sesekali bergetar seiring guncangan tram, lalu memantul lembut ke wajah perempuan muda itu, seolah menyentuhnya dengan jemari cahaya yang tahu cara menenangkan tanpa perlu menghadirkan suara.

 

Perlahan, ia memejamkan mata. Bukan karena lelap, tapi karena percaya sejenak pada kelembutan sinar mentari yang tak bertanya apa-apa. Seperti seseorang yang sudah terlalu lama berdiri di tengah badai dan akhirnya merasakan hangat matahari pertama yang datang tanpa syarat.

 

Wajahnya masih kaku, namun ada sesuatu yang berubah. Bukan senyum, yang memang belum sampai ke wajahnya. Tapi napasnya sedikit lebih lambat, dan jeda di tubuhnya tak lagi seberat tadi.

 

Ia mengusap matanya perlahan dengan gerakan kecil yang nyaris tak tampak, seolah ingin menyeka sisa-sisa dari hari yang menggumpal di kelopak matanya. Tak ada suara, namun tubuhnya bicara dalam bahasa yang tak semua orang mampu mendengarkan.

 

Dalam keheningan itu, teringat pagi tadi sebelum kami berangkat ke Germany, saat Tilahum tak bisa ikut. Waktu itu saya mengerti sesuatu yang sederhana bahwa kadang, sebelum seseorang mampu berdiri, yang mereka butuhkan hanyalah seseorang yang mau duduk di sampingnya.

 

Tram terus melaju, meninggalkan halte demi halte seperti halaman-halaman buku yang dibalik perlahan. Di antara detik-detik yang nyaris membeku, saya merasa ada sesuatu dalam diri perempuan muda itu yang perlahan lenyap.

 

“Even the softest light can guide you through the darkest path.”

– Matshona Dhliwayo

Part 34.

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!