“What is meant to open will open in its own time.” Rumi
Chloe menoleh cepat dan langsung terkekeh, matanya menyipit sambil menahan tawa yang hampir tumpah. “Yes, Sophie does get sulky sometimes.”
Suasana di dalam mobil seketika terasa lebih ringan, seperti ada senyum yang ikut menyebar tanpa diminta. Sophie menoleh sedikit, wajahnya berubah ragu antara ingin tertawa atau tetap bertahan dengan perasaannya.
Ia lalu memonyongkan bibirnya, melipat tangan di dada sambil mendengus kecil, tetapi ujung bibirnya sedikit terangkat, menyisakan senyum yang tidak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.
Chloe menatap Nigel lagi, rasa ingin tahunya belum juga reda. “But does it work, broer?” Nada suaranya terdengar sungguh-sungguh, seolah ia benar-benar ingin memahami jawaban itu sampai ke dasarnya.
Nigel akhirnya menoleh sedikit, bibirnya terangkat pelan. “Yeah, because sometimes people need time first before they want someone near them.”
Kata-katanya jatuh dengan tenang, seperti sesuatu yang lebih besar dari usianya dan di antara tawa kecil Chloe, protest halus Sophie dan suara machine yang mengalun pelan, suasana di dalam mobil berubah menjadi lembut.
Sebuah ruang kecil di mana kami belajar bahwa tidak semua hati bisa dibuka paksa. Kadang ia hanya butuh waktu untuk menemukan jalannya sendiri menuju kedekatan.
“Some doors open only when we stop pushing.”
Part 8.

