“Silence is reversible, a thought is reversible, feeling is reversible but words aren’t. Once they leave you , it belongs to the one who heard them.” Hamza Said
Mobil perlahan naik ke dalam kapal ferry, lalu kapal bergerak meninggalkan dermaga. Air di bawah seperti digambar ulang oleh warna merah muda yang merambat dari arah matahari terbit.
Sophie menoleh pelan. “Mama, are you tired?” “Sedikit. Tapi tidak apa-apa, sayang.” Kami lalu terdiam sebentar. Kapal berderak pelan dengan suara ombak menyentuh badan kapal.
Chloe menatap jendela, lama sekali lalu berkata pelan tanpa menoleh. “Mama… that woman earlier, she was the same one you helped twice, right?” Saya menganguk pelan.
“For a moment, I wanted to say something back. Like, really say something.” Saya menoleh. “Apa yang ingin Chloe ingin katakan?” Ia mengangkat bahu. “I don’t know. Something like… hey, calm down but it sounded a bit harsh.”
Saya diam sejenak, mencari kata yang tepat. “Iya, sayang. Kalau sudah terucap, kata itu seperti anak panah. Kita bisa menyesal, tapi ia sudah terlanjur melesat.”
Chloe mengangguk pelan. “So… we think first?” Saya tersenyum. “Kalau bisa, iya. Tadi waktu ibu itu marah-marah, mama sempat kesal dan hampir membalas. Tapi mama berhenti sebentar, lalu tarik napas.”
Chloe tertawa. “And if it is still hard?” Saya ikut tersenyum. “Tarik napas lagi.” Kami berdua tertawa lepas dan Sophie ikut bersandar. “Mama, that’s hard. Maybe I will bite my lips and try to hold it.” Kini kami bertiga tertawa.
“The maturity is not about being right but being aware of the kind of damage you are capable of doing because your tongue can create peace or start a war in the same breath.” Hamza Said
Part 2.

