“The rhythm of life is built on both silence and motion.”
Ada sedikit rasa ragu saat saya melangkah mendekati bengkel sebab yang tampak di hadapan bukan bengkel ber-AC dengan meja receptionist rapi, melainkan ruang kerja sederhana yang menyatu dengan keseharian.
Letaknya tersembunyi dan harus melewati jalan kecil yang berujung pada bangunan di tepi kali. Airnya mengalir tenang seolah ikut meredakan suasana bengkel yang siang itu hening tanpa suara kesibukan.
Saya melangkah masuk ke halaman dalam. Udara membawa campuran aroma oli, asap rokok dan wangi kopi hitam yang baru diseduh. Para pekerja terlihat sedang menikmati istirahat siang yang terasa panjang.
Ada yang duduk di bangku kayu sambil meneguk kopi panas, ada yang merokok pelan sambil memandang kosong ke arah kali dan ada pula yang tertawa kecil di sela obrolan ringan.
Waktu seakan melambat. Tidak ada tergesa-gesa dan tidak ada formalitas kaku. Hanya tubuh-tubuh yang memberi dirinya ruang untuk berhenti dari riuh pekerjaan.
Di tengah suasana itu saya tertegun. Saya belajar bahwa kualitas sebuah bengkel tidak ditentukan oleh alat atau mewahnya gedung, melainkan oleh manusia yang mengisinya.
Mereka tahu kapan harus bekerja dan kapan memberi tubuh serta pikiran kesempatan untuk berhenti sebentar dan memberi ruang untuk rasa lelah.
“Work without rest is noise but work with rest becomes harmony.”
Part 28.

