“True strength is letting the struggle refine you, not close you.”
Saya, Mbak Patsy, dan Chloe masih duduk di atas carpet, di antara catalog yang setengah terbuka dan sisa hangat tea dalam cangkir kertas. Di luar, tak jauh dari meja registrasi, hiruk-pikuk mulai tumbuh.
Terdengar suara sepatu, derai tawa, dan bahasa asing yang saling bersahutan. Tapi di sini, di antara kami bertiga, waktu seperti melambat sebentar, seolah memberi kami jeda sebelum hari benar-benar dimulai.
Saya menyesap tea perlahan dengan uap hangat mengaburkan pandangan sejenak. Dari celah antara gelas dan napas, saya masih bisa melihat koper ungu yang tadi pagi kehilangan satu rodanya. Ia berdiri diam, walau tak sempurna, menjadi saksi diam dari pagi yang sedikit kacau.
Saya menoleh ke arah Mbak Patsy yang masih memandangi koper itu. Senyumnya ringan, bukan senyum yang dibuat-buat, melainkan semacam pengakuan lembut bahwa hidup memang tak selalu berjalan mulus.
Senyum yang menerima bahwa ada hari ketika kekuatan tidak tampil dalam bentuk yang gagah, melainkan hadir dalam bentuk ketenangan. “Mbak Sarah, kita kadang terlalu sibuk memastikan semuanya berjalan sempurna,” katanya pelan, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri.
“Sampai lupa bahwa yang paling penting bukan tampil tanpa cela, tapi bagaimana kita tetap bisa melangkah, walau dengan kaki yang terseok.” Saya mengangguk perlahan. Pandangan saya kembali tertuju pada koper yang tetap berfungsi meski jalannya sudah tak mulus.
Chloe ikut menoleh dan sedang melihat lebih jauh dari sekadar koper berwarna ungu dan roda yang tinggal tiga. Bukankah yang layak disebut kuat bukan hanya yang tampak kokoh di luar, tapi yang tahu rasanya goyah lalu memilih untuk tetap berdiri ?
“To be strong is not to be untouched by struggle, but to let it shape you without losing your tenderness.”
Part 14.

