“What stays with us isn’t the flawless hour, but the one that lets laughter slip through its cracks.”
Mbak Patsy berdiri di kejauhan, kopernya bersandar miring hanya pada tiga roda. Wajahnya tetap cerah, meski pagi itu belum sepenuhnya bersahabat. Di tangannya tergenggam selembar jadwal tradeshow yang padat, seperti hari-hari sebelumnya.
Jadwal kami kerap bersinggungan karena sama-sama bergerak di bidang jewelry. Kadang berbeda negara, tapi jauh lebih sering langkah kami berakhir di tempat yang sama, entah karena rencana atau hanya kebetulan yang sungguh manis.
Pagi itu seharusnya terasa berat bagi mbak Patsy, tapi dari cara dia menertawakan kopernya yang pincang justru membuka ruang dalam diri saya. Ruang untuk diam, untuk merasa dan untuk benar-benar mengamati tentang musibah tersebut.
Saya melihat Chloe berlari kecil menghampiri mbak Patsy yang menyambutnya dengan tawa yang ringan dan tangan yang terbuka. Tiga roda yang tetap menggelinding, dua gelak tawa, dan satu kehangatan yang memeluk pagi itu.
Mungkin hidup bukan tentang berapa banyak tempat yang kita datangi, tapi seberapa dalam kita hadir di tempat kita berpijak. Bukan tentang jumlah stempel di passport, tapi tentang seberapa lembut kita merawat diri di antara jeda-jeda kecil.
Roda yang lepas mengingatkan bahwa kita tak perlu selalu utuh untuk tetap berjalan. Hari itu, saya belajar satu hal dari mbak Patsy bahwa yang membuat perjalanan layak dikenang bukan kesempurnaannya, tapi cara kita tertawa pada hal-hal kecil yang tak sempurna.
“Joy doesn’t wait for everything to be whole. It slips in through what’s broken, carried by those who keep walking anyway.”
Part 12.

