0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Scars and scratches are the chords that shape our song.”

 

Gelas kopi di depan saya sudah kosong, hanya menyisakan pahit yang perlahan memudar di lidah. Udara warung kopi kecil saat itu masih dipenuhi aroma kopi bercampur dengan suara sendok beradu pelan di dalam gelas.

 

Namun justru dari sisa kopi yang pahit itu, sebuah pengingat muncul bahwa hidup ini tidak pernah dibangun dari kesempurnaan yang hanya dipenuhi rasa manis, melainkan dari jejak yang ditinggalkan di sepanjang perjalanan.

 

Seperti meja kayu di depan kami yang penuh goresan namun tetap setia menopang percakapan baru atau serbuk halus yang melekat di langit mulut dan memaksa kita untuk mengingat bahwa jejak tidak selalu hilang begitu saja.

 

Begitu pula hidup, rasa pahit dan goresan itulah yang justru memberi bentuk dan arti, bukan hal-hal yang mulus tanpa bekas.

 

Saya menatap Chloe, Sophie dan Nigel. Ada sesuatu yang berbeda di wajah mereka, seakan mereka juga mulai menangkap pelajaran yang tersembunyi di balik percakapan mengenai kopi itu.

 

 

Mata saya kembali jatuh pada goresan kayu di meja dan menyadari bahwa sekecil apa pun jejak itu, bukan hanya menandai bahwa kita pernah ada, tetapi juga menuntun pada irama yang melengkapi perjalanan.

 

Tanpa nada, lagu tidak akan pernah hidup dan tanpa jejak, bukankah perjalanan ini pun akan kehilangan alunannya?

 

“A path without traces is like a melody without breath.”

Part 23.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!