0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Life’s burdens are lighter when they’re spread across many hands.”

 

Saya dan Michael akhirnya berjalan menuju halte tram, perlahan, menyusuri trotoar yang disinari mentari siang yang mulai melembut karena hari perlahan merambat ke arah sore.

 

Michael menarik koper saya yang kini berat dan penuh, namun tetap melangkah dengan tenang seperti biasa. Roda-roda koper berdecit pelan, seolah menyanyikan lagu kecil di antara kerikil dan bayangan pohon. Saya menoleh ke arahnya. “Is it heavy?”

 

Michael tersenyum ringan, tanpa menoleh. “Not too bad. You packed wisely,” lalu menambahkan setelah jeda singkat, “but I think too much tea. Oh gosh, you’ve bought tea for the whole neighborhood.” Kami tertawa kecil, lalu kembali hening.

 

Langit siang mulai kehilangan cahayanya perlahan, seperti tirai yang ditarik pelan di panggung  pertunjukan. Sementara itu, langkah kami terus beriringan di trotoar yang semakin ramai oleh penduduk local yang lalu-lalang.

 

Roda koper masih berdecit pelan di antara ubin yang tak rata. Michael menariknya tanpa keluhan, lalu tertawa kecil dan memecah keheningan, “It doesn’t feel heavy at all. We’re not just carrying weight, we’re sharing space. Yours, mine, Tilahum’s. It’s all of us in this.”

 

Saya ikut tertawa, tapi dalam hati, saya tahu kalimat itu lebih dalam dari yang terdengar. Koper itu memang berat, tapi yang membuatnya ringan adalah tangan yang rela membantu teman yang sedang sakit, tawa yang mengisi perjalanan, dan waktu yang dihabiskan tanpa tergesa.

 

Kadang, hidup memang tak selalu bisa dibuat ringan. Tapi jika kita mau berbagi ruangnya, bebannya, bahkan rasa letihnya, kita akan belajar bahwa sesuatu yang berat bisa terasa lebih ringan saat tidak kita tanggung sendiri.

 

“Together, we don’t just carry the load, we carry each other.”

Part 32.

 

 

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!