0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“The world is full of people who bend the rules, but knowing when to stand your ground without losing your peace makes all the difference.”

 

Chloe merapikan sendoknya ke sisi piring, lalu melirik saya sebelum melompat turun dari kursinya. Mbak Patsy menyelesaikan coffeenya lalu meraih tas dengan santai. Saya menggenggam tangan Chloe sebelum melangkah keluar, membiarkan udara pagi yang masih sejuk menyambut langkah kami.

 

Di sepanjang jalan menuju venue, Chloe berjalan sedikit lebih lambat dari biasanya, seperti menikmati setiap langkah tanpa terburu-buru. Saya tidak mengomentari, hanya mengikutinya, membiarkan waktu mengalir seperti seharusnya.

 

Namun, begitu kami tiba di venue, ketenangan itu terusik. Dari kejauhan, saya melihat seseorang berdiri di dekat booth kami, pria yang kemarin mencoba mengisi booth dengan barang-barangnya tanpa izin. Ia tampak berbicara dengan seseorang, tangannya bergerak-gerak seakan menjelaskan sesuatu.

 

Chloe berhenti sejenak, ekspresinya berubah dan tidak lagi setenang beberapa menit lalu. Saya meremas tangannya lembut. “It’s okay. Let’s see first.” Mbak Patsy berjalan lebih dulu, suaranya yang ramah namun tegas saat menyapa pria itu. “Good morning! Looking for something?”

 

Pria itu menoleh, raut wajahnya tampak terkejut melihat kami  namun dengan cepat menemukan kembali keberaniannya dan tersenyum tipis. “Ah, I thought this space was still available.” Saya menatapnya, tetap dengan senyum di wajah. “Unfortunately, it’s not. We’re setting up soon.”

 

Pria itu melangkah pergi dengan ringan, seperti seseorang yang sudah terbiasa mencari celah di mana pun ia bisa. Chloe masih memperhatikannya saat saya berjongkok di sampingnya. “See, sayang,  akan selalu ada orang yang mencoba mengambil jalan pintas, tapi bukan berarti kita harus marah.”

 

Chloe mengangguk pelan, lalu menoleh dengan senyum kecil. “Like the wind, right, Mama? We don’t have to hold onto everything that passes. What matters is we just stay in our spot.” Saya tersenyum, mengusap kepalanya lembut. “Exactly, sayang.”

 

“Not every storm is ours to stop, some are meant to pass on their own.”

Part 27.

 

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!